Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Profil Pemain arrow Maya Kurnia Indri : Mengalahkan Rasa Minder, Pemain Voli Tarkam Ini Pun Meroket
Skip to content

Login Form






Lost Password?

Visitors Counter Since 4 Feb 2012

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday566
mod_vvisit_counterYesterday2165
mod_vvisit_counterThis week2731
mod_vvisit_counterThis month34651
mod_vvisit_counterAll5515466

sloganvoli.jpg

Maya Kurnia Indri : Mengalahkan Rasa Minder, Pemain Voli Tarkam Ini Pun Meroket PDF Print E-mail
Written by Esti Fauziah   
Tuesday, 02 October 2007

Selarik gadis-gadis bergerombol di Padepokan Voli Sentul Selatan. Mereka cantik, segar, dan kebanyakan bertubuh jangkung--banyak dari mereka yang tingginya di atas 170 sentimeter. Siapa mengira di antara sederet perempuan-perempuan tinggi itu ada yang usianya baru 15 tahun. Dialah meteor muda voli putri Indonesia. 

  

Sang meteor itu adalah Maya Kurnia Indri Sari. Tingginya 176 sentimeter. Tubuh jangkung dan keperkasaannya di lapangan itulah yang mengantar gadis ini bergabung di Padepokan Voli, tempat pemusatan tim voli untuk persiapan pesta olahraga se-Asia Tenggara, SEA Games, di Thailand tahun ini.

Siswi kelas dua SMAN 1 Manyar, Gresik, Jawa Timur, ini mulai dilirik para pemandu bakat saat mengikuti Liga Remaja di kotanya. Dari kejuaraan itu Maya diajak bergabung tim inti klub Petrokimia Gresik. Penampilannya ternyata memikat para penonton. Setiap kali ia bermain, mereka bersorak, memuji-muji penampilannya, serta memanggil-manggil namanya. "Aku senang sekali sekaligus grogi," kata Maya, yang mampu membawa timnya keluar sebagai juara. 

Dari Gresik itulah voli membawa Maya ke berbagai kota, termasuk ke Vietnam tahun lalu. Maya awalnya tak yakin atas ajakan ke Vietnam dan lebih memilih mengikuti kejuaraan nasional. "Tak yakin karena aku paling muda.Orang bilang kalau karier diraih instan, jatuhnya juga cepat," katanya. Namun, dukungan keluarga kembali mampu membuatnya memutuskan untuk ikut kejuaraan tersebut dengan anggota tim nasional lainnya. 

Sejak saat itu, nama Maya makin berkilau. Ia pun resmi bergabung dengan pelatnas voli di posisi quicker. Ia juga dipercaya memperkuat tim di Kejuaraan Junior Asia 2006 dan Kejuaraan Asia 2007 di Thailand.

 * * * 

Maya berkenalan pertama kali dengan dunia voli sejak masih di bangku kelas 6 sekolah dasar. Awalnya, dia tak terlalu menyukai voli. Ia hanya diajak meramaikan pertandingan antarkampung alias "tarkam" di Sidoarjo, Jawa Timur. Meski setengah hati, dia mampu membawa timnya keluar sebagai juara. 

Di tengah kegembiraan atas kemenangan yang diraih, Maya mendapat kejutan lain. Salah seorang panitia memberikannya uang Rp 50 ribu secara diam-diam. "Ini hadiah tambahan," bisik Maya menirukan sang panitia saat itu. 

Maya, yang hampir tak percaya dengan hadiah yang diraihnya, merasa senang sekali. Sejak saat itu, dia semakin giat berlatih. Tapi kebenaran cerita di balik uang hadiah itu pun terungkap. "Aku baru tahu belakangan ini kalau uangnya dari ayah," kata Maya tergelak sekaligus merasa jengkel. 

Maya berkenalan dengan voli lewat ayahnya, Sunadji. Sang ayah memperkenalkan Maya dan kedua anaknya yang lain dengan dunia olahraga sejak kecil. Maya pun bergabung dengan klub voli Sparta Sidoarjo sejak kelas 1 SMP. Saat itu Maya sering merasa tak percaya diri. Tak jarang orang menganggap remeh dirinya. "Orang bilang kaki Maya "letter X", tak mungkin bisa jadi atlet voli," ucapnya. Kepercayaan diri Maya pun runtuh. Namun, dukungan ayah dan ibunya, Endra Sri Rahayu, menjadi bahan bakar yang selalu siap menyalakan api semangat dalam dirinya. Maya kini tak lagi peduli dengan omongan miring di seputarnya. 

Kecintaannya dengan dunia olahraga pun berlanjut hingga kini. Menurut sang ayah, Maya mengungkapkan, jika remaja seusia Maya dikenalkan dengan olahraga, tak akan terjerumus dalam pergaulan negatif. Kakak laki-laki Maya juga berkarier sebagai atlet judo di daerahnya.  Kejuaraan pertama Maya adalah Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) saat masih menjadi siswi kelas 3 SMP IV Gresik.Kemenangan timnya atas tim putri Riau membuatnya kian bersemangat berlatih. Saking semangatnya, Maya mengalami cedera pergelangan kaki. Selanjutnya dia tak dapat bermain lagi hingga akhir kejuaraan. Maya menangis karena kecewa. Beruntung timnya mampu keluar sebagai juara. 

Kejuaraan paling berkesan bagi Maya justru saat dia mengikuti Liga Remaja setelah mengikuti Porseni. Maya, yang bergabung dengan klub Petrokimia Gresik, bermain di tim inti saat itu. Tak disangka, para penonton memuji-muji penampilannya dan memanggil-manggil namanya. "Aku senang sekali sekaligus grogi."

 * * * 

Impiannya menjadi pemain nasional sudah ada dalam genggamannya. Meski paling belia, Maya tak canggung.Karena paling "bungsu", teman-temannya memanggil Maya dengan sebutan Dedek. Bersama para pemain lainnya, Maya kerap menghabiskan waktu di sela-sela pelatnas dengan berjalan-jalan di pusat perbelanjaan.

Jika tak sedang ingin ke luar asrama, dia lebih memilih menghabiskan waktu beristirahat sambil menelepon sang pujaan hati. Pacar? "Bukan. Mamaku. Aku belum punya pacar. Mau dong dicariin," ujar dara manis ini tersenyum malu-malu. 

Jika musim ujian tiba, itulah yang bikin kepala sedikit pening. Dia harus bertempur melawan waktu untuk mempersiapkan diri. Ujian yang ditempuh Maya berbeda dengan siswa lainnya. Soal-soal ujian beserta lembar jawaban yang diserahkan Maya diatur oleh SMA Ragunan, sekolah khusus para atlet. 

Selama duduk di kelas 2 SMA, Maya kini semakin jauh dari ruang kelas. Ia tak pernah lagi belajar bersama teman-teman di ruang kelas. Kadang Maya merasa kehidupannya sebagai remaja terampas. "Seharusnya aku lagi kerja kelompok dengan teman-teman, ya?" katanya merenung. Meski sedikit sedih, ia tetap yakin jalan hidupnya ada di lapangan voli. "Aku ingin membahagiakan orang tua,"katanya. 

Maya mempunyai cita-cita terjun di dunia arsitektur bila voli sudah tak membutuhkan tenaganya lagi. Namun, bila itu tak terjangkau, menjadi pegawai bank atau polisi sudah cukup baginya. "Kebanyakan sponsor voli kan dari bank atau kepolisian," katanya enteng.  AMI AFRIATNI 

Sumber : Koran Tempo

Last Updated ( Tuesday, 28 August 2012 )
 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=