Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Profil Pemain arrow Joni Sugiyatno, dari Kampung Menuju Pentas Voli Dunia
Skip to content

Login Form






Lost Password?

Visitors Counter Since 4 Feb 2012

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday255
mod_vvisit_counterYesterday1691
mod_vvisit_counterThis week5807
mod_vvisit_counterThis month37727
mod_vvisit_counterAll5518542

sloganvoli.jpg

Joni Sugiyatno, dari Kampung Menuju Pentas Voli Dunia PDF Print E-mail
Written by donny   
Thursday, 04 October 2007

Berawal Melawan Ibu Rumah Tangga
Nama Joni Sugiyatno mulai mencuat ke pentas bola voli nasional dalam kurun lima tahun terakhir. Karir Joni kian meroket setelah bergabung tim nasional. Siapa Joni?

 

TIDAK cukup sekadar menjadi baik. Pepatah itulah yang menjadi pemicu motivasi Joni Sugiyatno kala merintis karir sebagai pemain voli. Dari seorang pemain voli antarkampung, Joni menjelma sebagai atlet berkaliber nasional yang siap menaklukkan dunia.

Sosok Joni dikenal publik voli nasional kala mengantarkan klub Surabaya Samator menjuarai Proliga 2007. Dia juga terpilih sebagai blocker terbaik dan gelar most valuable player (MVP) alias pemain terbaik Proliga 2007. "Itu berkat kerja sama dengan teman-teman juga. Tanpa mereka, tidak mungkin saya menuai gelar itu," tutur Joni.

Torehan prestasi tersebut memang tidak disangka Joni. Sebab, dalam Proliga itu, menurut Joni, banyak pemain yang memiliki kemampuan jauh di atas dirinya. Misalnya, M. Zaenuddin yang memperkuat Jogja Yuso Tomkins. Mamad -sapaan karib M. Zaenuddin- adalah pemain senior yang telah berulang-ulang memperkuat tim nasional dan memiliki postur yang lebih tinggi daripada Joni.

Dengan gelar pemain terbaik itu, Joni tak memungkiri jika ada sedikit beban di pundaknya. "Tetapi, saya ambil manfaatnya saja. Dalam setiap penampilan, saya harus mempersembahkan yang terbaik bagi tim, baik di klub maupun saat membela Indonesia," ucapnya.

Pemuda berusia 24 tahun itu belajar teknik bermain voli secara otodidak di kampungnya, Donan, Cilacap, Jawa Tengah. Lawan mainnya adalah ibu-ibu tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya.
Siapa sangka dari kegiatan harian itu Joni jatuh cinta terhadap voli.

Meningkatnya kecintaan Joni terhadap olahraga tersebut membuat dia melakukan apa pun untuk memasyarakatkan voli. Bersama warga sekitar, Joni gatal melihat banyak tanah kosong di areal kabupaten yang berada di ujung barat Jawa Tengah itu. Dia kemudian menyulap tanah kosong itu menjadi lapangan voli. "Yang penting bisa untuk main voli, tanahnya datar dan garis pembatasnya jelas," kenangnya.

Joni tidak segan menemani ibu rumah tangga di kampungnya bermain voli. "Kalau pulang kampung, saya pasti bereuni dengan ibu-ibu tetangga.
Mereka juga minta saya untuk bertanding dengan mereka," kata Joni.

Selain bermain bersama tetangganya itu, perkembangan teknik Joni sangat terpengaruh oleh kakak kelasnya di
STM Budi Utomo Cilacap. Saat dia mengusulkan ada ekstrakurikuler voli di sekolah tersebut, kakak kelasnya banyak membantu dan mau menjadi rekan dan lawan bermain.

Itu juga dia alami semasa di SMP Islam Al Irsyad, Cilacap. Joni hanya bermain voli sendiri tanpa arahan pelatih. "Guru sekolah juga tidak ada. Kami bermain sendiri saja," tuturnya.

Saat mengikuti kejuaraan antarsekolah, bakat Joni terpantau oleh Pengprov PBVSI Jawa Tengah. Dia kerap didapuk memperkuat tim pelajar daerah di ajang antarprovinsi. Level turnamen yang diikutinya pun meningkat hingga memperkuat tim nasional junior menuju kejuaraan antarnegara-negara Asia Tenggara.

Kini Joni menjadi pilar penting tim nasional voli Indonesia. Dia menjadi tumpuan menghadapi
SEA Games XXIV yang dibentang di Thailand pada Desember mendatang. Beban itu membuat Joni terpacu untuk segera pulih dari cedera metacarpal tangan kiri yang menderanya saat Indonesia menghadapi Jepang di Kejuaraan Asia awal September lalu.

Tidak sampai dua minggu beristirahat Joni telah kembali berlatih bersama rekan-rekannya di Padepokan Voli Sentul, Jawa Barat. Bahkan, dia berlatih saat tangannya masih dalam balutan perban elastis cokelat muda. "Sayang sekali saya tidak dapat membela Indonesia. Padahal, tim membutuhkan kemampuan saya," ujar putra Yuliah itu.

Tanpa Joni, kekuatan Indonesia memang berkurang. Dia salah seorang pemain yang selalu diturunkan sebagai starter oleh pelatih Hu Xinyu di Kejuaraan Asia tersebut. Bahkan, saat melawan Tiongkok pada hari keenam kejuaraan dua tahunan itu, Joni masih mengantongi predikat top scorer, the best blocker, dan the best spiker di tim Indonesia.

Begitu pula di serve. Meski tidak mencatatkan namanya sebagai yang terbaik, Joni juga nyaris menjadi the best serve. "Saya harus cepat sembuh. Jangan sampai cedera ini menganggu saat harus bertanding di
SEA Games," harapnya.

Dia memang berambisi mengulang torehan manis Indonesia seperti di
SEA Games XXII/2003 kala menggondol emas dari voli indoor pria.  

 

Bahagiakan Ibunda lalu Menikah 

KARIR Joni Sugiyatno semakin moncer (gemilang) akhir-akhir ini. Hal itu berimbas pada kehidupan Joni yang semakin membaik seiring bertambahnya pendapatan yang dia peroleh. Apalagi setelah dia terdaftar dalam Tim Nasional Voli Indoor sejak 2004. Tak hanya penghasilan sebagai skuad PON Jatim dan Surabaya Samator, Joni juga mendapatkan gaji sebagai anggota pelatnas proyeksi SEA Games XXIV. "Lumayan, saya bisa membantu ibu di kampung. Saya bisa memperbaiki rumah dan membelikan sepeda motor," kata Joni.

Yuliah, sang ibu, memang sangat berarti bagi karir Joni. Ibundanya itulah yang selalu memberikan dukungan moral kepadanya. "Meski tidak begitu mengerti tentang olahraga, beliau selalu mendukung apa pun pilihan saya, terutama yang positif," imbuhnya.

Karena itu, dia selalu ingin membahagiakan ibundanya melalui cara apa pun. Sejatinya, Joni juga tidak bisa berlama-lama meninggalkan Yuliah. Meski Jakarta-Cilacap harus ditempuh dalam waktu yang cukup lama, sekitar sepuluh jam, Joni selalu menyempatkan diri untuk pulang kampung jika mendapatkan libur.

Setelah mampu membahagiakan ibundanya, Joni pun ingin segera mengakhiri masa lajang.
Adalah Titin Ima Suharti yang menjadi pilihan Joni untuk dinikahi. "Ketemunya sudah lama, sejak 2001 pas Kejurnas (Kejuaraan Nasional) Voli," kenang Joni.

Waktu itu, Titin juga turut bertanding memperkuat Tim Jawa Barat. Memang, bukan dalam waktu dekat mereka bakal mengakhiri masa lajang. Baru tahun depan, Joni bakal melamar Titin. "Kalau sudah selesai pekerjaan di SEA Games dan PON 2008 nanti," terangnya.  

 

Pelihara Burung hingga Mancing Belut 

Tidak bisa dimungkiri, tuntutan berprestasi kadang membuat seorang atlet merasa tertekan. Joni Sugiyatno tidak menampik merasakan hal serupa. Namun, dia memiliki obat tersendiri untuk melumpuhkan stres tersebut. "Saya akan ke belakang mes melihat burung peliharaan dan mengajaknya berkicau," kata Joni.

Kini, Joni memiliki dua ekor burung kesayangan yang dipelihara di Padepokan Sentul, Jawa Barat. Selain itu, di rumah orang tuanya, Joni memelihara empat ekor burung. Sebelumnya, dia juga telah memelihara dua ekor burung di mes Surabaya Samator. "Yang di sana saya tinggal di rumah Affan (Madiun). Di sini, saya pelihara yang baru lagi," ungkapnya.

Affan Priyo Wicaksono adalah rekannya satu tim di Surabaya Samator dan tim nasional voli indoor. Affan pun tertular hobi memelihara burung.

Meskipun harus mengeluarkan biaya pemeliharaan, Joni menilai ketentraman hati yang dituainya lebih besar.
Sebulan, dia rata-rata harus mengeluarkan Rp 100 ribu untuk membeli makanan burung seperti kroto dan jangkrik. Biaya itu belum termasuk pengeluaran untuk membeli kandang atau burung yang bisa mencapai Rp 350 ribu per ekor.

Kegandrungan memelihara burung dimulainya sejak masih kecil. "Malah tidak hanya memelihara burung yang disenangi, tetapi mancing belut juga dilakukan," kenangnya.

Saking seringnya bermain di bawah terik matahari, rambut Joni sampai memerah. "Iya, sampai banyak yang mengira saya keturunan bule," tuturnya.

Dengan kesibukannya di pelatnas, Joni tidak bisa lagi menyalurkan hobi mencari belut itu. "Tinggal burung ini obat stres dan capek. Untung, nggak ada larangan memelihara burung di sini (mes, Red)," ucapnya.
(vem) 

Sumber.Jawa Pos Online


Last Updated ( Tuesday, 28 August 2012 )
 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=