Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Manajemen Klub arrow Sparta Sidoarjo, Pencetak Pemain Voli di Tengah Keterbatasan
Skip to content

sloganvoli.jpg

Sparta Sidoarjo, Pencetak Pemain Voli di Tengah Keterbatasan PDF Print E-mail
Written by Pippin   
Saturday, 05 January 2008

Tak Mampu Sewa Gedung, Andalkan Iuran Anggota

Sparta Sidoarjo tidak hanya merajai voli junior pada era 70 dan 80-an. Mereka juga dikenal sebagai klub yang melahirkan pemain-pemain berkelas nasional. Siapa sangka mereka dilatih dan dididik di sebuah kompleks lapangan beralas tanah.

Sore itu, hujan gerimis tak henti mengguyur Kota Sidoarjo dan sekitarnya. Kalaupun reda, itu hanya sesaat. Kadang, hujan malah menderas. Seharian, mendung tak bergerak dari langit Kota Udang tersebut.

Di sudut Alun-Alun Kota Sidoarjo, sekelompok anak berseragam olahraga berteduh di warung tenda. Kaus tim mereka bertulisan Sparta. Sebagian sudah bersepatu, tetapi lebih banyak yang menyembunyikan peranti latihan mereka dalam tas plastik. "Kami nunggu hujan reda, Mbak. Kalau hujan terus, ya nggak latihan," kata Sugeng, salah seorang anggota tim kepada Jawa Pos.

Esok harinya, Jawa Pos mencoba mengunjungi mereka lagi. Hujan turun sepanjang pagi. Menjelang sore, hujan sudah reda, namun air masih menggenang. Rumput masih basah.

Di lapangan yang sama, kali ini sekelompok anak perempuan dengan sapu lidi dan pengki di tangan mencoba mengeringkan tanah dari genangan air. Sedangkan yang lain mengeruk tanah lapangan, lalu menampungnya dalam keranjang bambu. Berdua atau bertiga, anak-anak perempuan itu membawa keranjang ke tengah lapangan, menumpahkannya ke atas genangan. Lumayan, lapangan tidak lagi tergenang meski masih becek.

Usaha mengeringkan lapangan tersebut menyita waktu sekitar satu jam. Hampir sepertiga jatah waktu latihan mereka. Tapi, anak-anak kelihatan tidak ada masalah dengan itu. "Lha masak latihan dengan lapangan becek? Kan mending dibersihin dulu," komentar salah seorang anggota Sparta lainnya.

Ya, pemain voli Sparta Sidoarjo memang tidak bisa leluasa berlatih. Bertolak belakang dengan jenis olahraga voli indoor, tempat latihan mereka sama sekali tidak berada dalam ruangan. Tim voli junior itu harus puas berlatih di sudut kanan Alun-Alun Kota Sidoarjo dengan kondisi lapangan yang memprihatinkan.

Tempat latihan Sparta terdiri atas dua lapangan berukuran standar. Sarana itu tak cukup menampung sekitar 150 anak yang berlatih tiap hari. Kalau banyak yang datang, sebagian di antara mereka terpaksa berlatih di dua lapangan lain yang tidak jauh dari lapangan utama, tapi terpisah dengan kompleks alun-alun. Keadaannya pun sama mengenaskannya.

Semua lapangan tersebut berlantai tanah. Bukan kayu atau beton layaknya lapangan voli indoor. Kering berdebu di musim kemarau dan becek bila musim hujan tiba. Rumput liar bertumbuhan di sudut-sudutnya. Jika terlalu subur, malah bisa mengubur garis lapangan. Bila hal tersebut yang terjadi, anak-anak Sparta harus kerja bakti mencabuti rumput lebih dulu.

"Ya, kami hanya punya ini, disyukuri saja," kata M. Askur Sabar, salah seorang pelatih. Menurut pria yang juga alumni Sparta itu, klub tersebut tidak mampu menyewa gedung latihan yang layak. Bisa berlatih di alun-alun kota sudah dianggapnya berkah lantaran lapangan itu milik Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. "Ini sudah kami anggap bantuan dari pemerintah," ujarnya.

Beda dengan dekade 70 atau 80-an ketika Sparta mengalami masa keemasan yang disokong banyak sponsor, tim ini sekarang hidup dari iuran anggota. Demi kemajuan klub dan kelangsungan latihan voli tiap sore, anak-anak rela menyisihkan uang sakunya untuk membayar iuran. Tidak banyak, tapi itu cukup untuk biaya operasional klub.

"Tiap tiga bulan, kami harus beli bola baru, net, dan sebagainya. Ini semua berasal dari uang anak-anak," kata Askur sambil menunjuk ke sekeranjang bola voli. Dia mengambil sebuah bola dan mengumpankannya ke sekelompok anak yang bolanya menggelinding jauh. "Prinsipnya, dari anak-anak untuk anak-anak," lanjutnya seraya tersenyum bangga.

Bukan anak-anak saja yang berkorban, Askur dan jajaran pelatih lain pun melakukan pengorbanan. Dia dan sekitar sepuluh orang yang lain mengaku melatih Sparta dengan suka rela alias tanpa bayaran.

"Kami tidak sampai hati meminta bayaran dari anak-anak. Ini adalah bentuk tribute untuk Sparta. Kan kami dulu bukan apa-apa. Tapi, setelah bergabung dengan Sparta, kami bisa jadi pemain voli yang hebat," terang pria yang membela Sparta pada 1984 hingga 1987 tersebut. Saat itu, dia sudah membawa Sparta berjaya di Jawa Timur. Tetapi, karena cedera, dia terpaksa gantung sepatu.

Menyaksikan Sparta berlatih dan mendengarkan Askur bertutur, nuansa kekeluargaan langsung terasa. Anak-anak yang jadi anggotanya berlatih dengan senang hati karena tidak berorientasi pada uang. Pengurus klub dan pelatih juga tidak memberi beban apa pun kepada anak didiknya karena tidak punya orientasi materi.

Tetapi, justru hal itulah yang membuat klub ini eksis hingga kini. Sparta berdiri jauh sebelum 1950-an dengan nama Sawunggaling Para Taruna. Anggotanya adalah anak-anak dinas sosial dan yatim piatu di Jalan Sawunggaling, Sidoarjo. Mengalami masa jaya sekitar 1977-1987, mereka merajai kompetisi daerah maupun nasional. Sparta juga punya tradisi melahirkan atlet-atlet voli kaliber nasional.

Ya, klub dengan tempat latihan seadanya itu adalah asal dari anggota pelatnas Nur Mufid, Markodji, dan Rama Supriyadi (sebelum ketiganya pindah ke voli pantai). Di masa lalu, Sparta melahirkan Masyhudi, pelatih yang mengantar Surabaya Flame menjuarai Proliga 2004. Belum lagi Slamet Mulyanto yang kini menjadi langganan sebagai pelatih voli pantai nasional.

Ketika era kompetisi modern bergulir, mereka tidak tenggelam. Pada 2002, Sparta keluar sebagai Juara Livoli. Tahun ini, mereka menembus perdelapan final Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim. Sparta belum kehilangan tradisi mencetak pevoli-pevoli andal.

Dalam tiga tahun terakhir, Sparta berhasil mengirim Sutrisno ke pelatnas. Dia menjadi spiker Indonesia Junior di Kejuaraan Asia 2004 di Dubai. Baru bulan lalu, Rizki Dwi Apriliyanti terpilih menjadi skuad tim voli Merah Putih saat turun di Kejuaraan Junior Asia 2007 di Thailand. Keterbatasan sarana latihan tidak membuat Sparta berhenti mencetak prestasi.

 Sumber : JawaPos

Last Updated ( Saturday, 05 January 2008 )
 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=