Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Ulah Panitia arrow Suka Duka Menjadi LO (Liason Officer) untuk Tim Asing
Skip to content

sloganvoli.jpg

Suka Duka Menjadi LO (Liason Officer) untuk Tim Asing PDF Print E-mail
Written by koko prasetyo   
Tuesday, 11 November 2008
Terkendala Bahasa Vietnam, Lebih Sering Pakai Isyarat

Bertugas sebagai LO (Liason Officer) memang gampang-gampang susah. Selain haus menguasai berbagai bahasa karena bertindak sebagai penerjemah, seorang LO juga bertugas mengingatkan berbagai jadwal yang harus diikuti para atlet. Ini pula yang dilakoni Mariana yang mendampingi tim putri Vietnam. Kejuaraan Voli Junior Piala Asean yang digelar di Jember benar-benar menjadi berkah dan pengalaman berharga bagi Mariana. Sebagai guru bahasa Inggris SMAN 2 Jember, dia mendapat kesempatan mendampingi atlet voli luar negeri. Tak main-main, yang didampinginya adalah atlet Vietnam.

Kesibukan pun menghinggapi Mariana. Dalam satu hari saja, banyak aktivitas yang dijalani. Mulai mengurusi kebutuhan tim tamu, mengingatkan jadwal makan, waktu latihan, hingga mengantar atlet ke money changer, tempat penukaran uang asing. Ironisnya, dia sendiri tak menguasai bahasa Vietnam, sementara, atlet Vietnam tak satu pun bisa berbahasa Inggris. "Wah kebetulan Mas, saya jadi ada temen ngobrol," ungkapnya setelah tahu bahwa Erje datang untuk menemuinya.

Terlihat Mariana begitu semringah saat dikelilingi para atlet. Namun, tak terlalu banyak yang bisa dibicarakan. "Di antara mereka (para atlet, Red,), tidak satu pun yang bisa bahasa Inggris," ungkapnya sembari menoleh ke para atlet yang duduk tepat di belakangnya.

Tak terkecuali dengan pelatih dan manager yang hanya satu dua patah kata saja paham bahasa Inggris. "Itu pun harus dengan pelan-pelan" ungkapnya. Atas kenyataan tersebut, untuk mempermudah komunikasi, Mariana lebih sering menggunakan bahasa isyarat agar dapat memahami apa keinginan satu dan yang lain.

Saat mengingatkan waktu tidur, misalnya. Dia harus menutup kedua tangannya dan kemudian disentuhkan ke pipi, sambil dimiringkan kepalanya.

Yang pasti, dengan bergaul dengan atlet Vietnam, beberapa kata sudah dikuasainya. Bahkan, dia begitu rajin mencatat beberapa kata dalam lembaran yang berisi beberapa kata dalam bahasa Vietnam berikut artinya. "Sekarang saya sudah tahu bahasa Vietnamnya tidur," ujarnya. Itu pun bari didapatkan setelah beberapa kali bertanya sambil mencontohkan gerakan.

"Saya belajar ke pelatihnya yang penting-penting saja. Seperti ucapan salam, waktunya makan, waktunya latihan, dan tidur," ungkap ibu satu putra dan satu putri ini. Hal itu dilakukannya semata-mata untuk mempermudah komunikasi.

Selama bersama, dia merasa para atlet tak rewel. Cuma karena terkendala bahasa, komunikasi sedikit canggung. "Kalau ketemu ya cuma senyum sama manggut-manggut gitu," katanya sembari tersenyum.

Tak jarang pula saat bertemu sesama LO, berbagai pengalaman pun diutarakannya. "Yang lain mungkin tidak kesulitan karena selain atletnya bisa bahasa Inggris, ada juga yang langsung membawa penerjemah dari negaranya," ungkapnya.

Bagaimana ceritanya mendapat tugas menjadi LO, padahal tidak bisa berbahasa Vietnam? Dia mengaku awalnya sempat kaget dengan tugas yang diterimanya. "Saya kira tugasnya hanya sebagai penerjemah, ternyata tidak sama sekali," ungkapnya sambil tersenyum. Lama-kelamaan, dia mulai menikmati pekerjaannya. Apalagi, menjadi LO kali ini termasuk pengalaman kali pertama dalam dunia olahraga. "Ini benar-benar pengalaman menarik sebagai seorang guru seperti saya," paparnya. Ada satu keinginan yang kini belum kesampaian dilakukannya. Dia ingin mengajak para atlet bersantai di waktu senggang. Namun karena terkendala komunikasi, hal itu tidak bisa disampaikannya. "Saya sebenarnya kasihan, masa mereka cuma di kamar saja," ungkapnya.

Bagaimana dengan para atlet sendiri? Menurut dia, keakraban justru tercipta ketika mereka saling menanyakan bahasa negara masing-masing. "Gara-gara sering tanya dan nggak nyambung, kami jadi tambah akrab. Gimana nggak tambah akrab, lha wong tiap hari tertawa terus," tuturnya. Tak jarang, mereka sering berfoto bersama.

Menariknya, saat pulang ke rumah, dia menceritakan pengalaman yang didapat dengan keluarganya, termasuk kepada anak-anaknya. "Mereka malah tertawa, dan bilang pasti sebentar lagi saya bakal pinter bahasa Vietnam," ujarnya.

Untungnya suaminya tidak henti-hentinya memberikan semangat agar dirinya melakukan yang terbaik untuk tugas barunya itu. "Wah, semua keluarga sangat mendukung," ujarnya.

Untuk diketahui, jumlah LO yang diterjunkan dalam even berskala internasional ini mencapai 10 orang. Mereka ditunjuk langsung Dinas Pendidikan Pemkab Jember. "Kami diambil dari guru-guru di setiap sekolah," ujarnya. Awalnya lebih dari 10 LO yang ditugasi. Namun ada sebagian yang mengundurkan diri karena tahu tugas dan tanggung jawab sebagai LO cukup berat. "Setahu saya ada yang karena jauh tempat tinggalnya atau karena alasan keluarga," ujar istri Ketut Suwardinatra ini.
Sumber : Jawa Pos
Last Updated ( Tuesday, 11 November 2008 )
 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=