Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow FIVB & AVC arrow Perjuangan Klub Bola Voli Nanggala, Surabaya, Meraih Prestasi
Skip to content

sloganvoli.jpg

Perjuangan Klub Bola Voli Nanggala, Surabaya, Meraih Prestasi PDF Print E-mail
Written by marto   
Wednesday, 20 January 2010

Lapangan Tak Bayar, Bola Sumbangan Orang Tua Pemain

Melimpahnya sarana dan prasarana tidak menjamin lahirnya prestasi. Paling tidak, itulah yang dialami klub bola voli Nanggala, Surabaya. Mereka bisa menjadi klub tangguh dengan segala keterbatasan yang ada.

PARA pemain Nanggala bergegas keluar dari GOR AWS Surabaya. Keringat mereka bercucuran. Anak asuh Hasan Salam tersebut baru saja melakoni laga uji coba melawan tim voli wanita Surabaya Bank Jatim.

Itu bukan hal yang luar biasa. Selama ini Nanggala memang sering dijadikan latih tanding bagi Bank Jatim yang notabene adalah klub profesional. Hal itu tak lepas dari status mereka sebagai tim terkuat di Surabaya. Tim pria Nanggala empat kali beruntun menjadi juara Piala KONI Surabaya (2006-2009).

Tim wanita Nanggala juga tak kalah tangguh. Mereka tiga kali berturut-turut (2006-2008) menjadi yang terbaik di Surabaya. Pada 2009 tim wanita Nanggala harus mengakui ketangguhan Tim Porkes. Dengan pencapaian seperti itu, Nanggala menjadi klub amatir raksasa di Kota Pahlawan.

Padahal, Nanggala bukanlah klub kaya. Untuk latihan, mereka melakoninya di lapangan milik bina marga dinas pekerjaan umum di Jalan Injoko. Gratis. Sudah sekitar 20 tahun tim Nanggala berlatih di sana tanpa dipungut bayaran. Mereka berlatih tiga kali dalam seminggu, setiap Selasa, Kamis, dan Jumat.

''Kami sangat berutang budi pada bina marga. Tanpa mereka, kami tidak akan bisa menjadi seperti ini. Apalagi, mencari lapangan gratis sangat susah," terang Hasan.

Itu baru lapangan. Nanggala juga tak membebani iuran mahal bagi para pemainnya. Setiap pemain hanya dipatok Rp 10 ribu per bulan. Masalahnya, banyak pemain yang tidak membayar iuran tersebut karena alasan ekonomi. Jika sudah begitu, Hasan tak bisa berbuat apa-apa.

''Kami kekeluargaan saja. Kalau memang tidak mampu, ya kami tidak menariknya. Sebab, kami tidak mengejar untung. Misi kami adalah bagaimana mencetak pemain-pemain bagus," ungkap pria kelahiran Surabaya, 22 Agustus 1957, tersebut.

Padahal, sebenarnya uang itu sangat penting bagi Nanggala. Sebab, uang itulah yang digunakan untuk membiayai operasional mereka. Misalnya, untuk membeli bola. Untung banyak orang tua pemain yang bersimpatik. Acapkali para orang tua menyumbang bola untuk latihan para pemain. Hal itu meringankan beban Nanggala.

''Banyak yang ngritik kenapa saya mau ngurusi Nanggala. Padahal, tim ini bukanlah tim kaya. Bagi saya, bukan kaya atau tidaknya sebuah tim, tapi kemauan serta kondisi di tim itu yang akan membuat kami menjadi besar," tegas pria yang menjadi pelatih tim voli Surabaya untuk Liga Remaja 2010 tersebut.

Pemain Nanggala Reza Mahendra menyatakan bangga bisa menjadi bagian dari tim tersebut. Selain menjadi bagian tim raksasa di Kota Pahlawan, pemain yang berposisi sebagai tosser itu merasakan atmosfer kekeluargaan yang kental antar pemain.

''Kami terus ditekankan tentang arti kebersamaan dan kekeluargaan. Pak Hasan juga sangat dekat dengan kami. Jadi, kami tak ubahnya seperti anaknya sendiri," ujar Reza.

Hasan memang selalu berusaha mendekatkan diri dengan anak didiknya. Dengan cara itu, dia bisa membangun kebersamaan. ''Pada diri anak-anak juga harus ditanamkan rasa bangga terhadap klub yang mereka bela. Dengan begitu, mereka akan selalu all- out ketika tampil di sebuah pertandingan," ucap Hasan. (*/ca)

Last Updated ( Wednesday, 20 January 2010 )
 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=