Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Ulah Panitia arrow Sulitnya Mencari dan Menjadi Sponsor Olah Raga
Skip to content

sloganvoli.jpg

Sulitnya Mencari dan Menjadi Sponsor Olah Raga PDF Print E-mail
Written by marto   
Friday, 02 February 2007

Tinggal 22 hari pentas proliga dijadwalkan akan digelar. namun sampai detik ini kepastian club peserta masih belum diperoleh. Para pemainnhyapun masih simpang siur akan main di club mana. Ketidak pastian yang tinggi dalam menyambut Pentas Proliga 2007 patut diduga diantaranya terkait dengan sponsor yang sulit diperoleh oleh tiap2 club. Kenapa susah mencari sponsor? tulisan berikut yg diambil dari tulisan Bambang kuntadi di koran PR  bersifat umum, tapi mungkin berlaku juga untuk kondisi voli kita (marto)

SALAH satu produsen rokok terkemuka di Surabaya, Wismilak dikenal punya perhatian pada dunia olah raga. Dari dunia tenis hingga balap sepeda didukungnya melalui kejuaraan hingga membentuk tim balap sepeda profesional. Namun, sepak bola sebagai olah raga paling populer dan mendapat perhatian publik, bukannya tidak diminati perusahaan ini.

Untuk berpromosi jadi sponsor tim di sepak bola bukanlah hal yang mudah. Menurut Stephanus Handoyo Kusumo, Marketing Manajer PT Gelora Djaja pemegang merek rokok Wismilak, pihaknya melihat kepentingan sponsor produk sejenis sering berbenturan antara sponsor kejuaraan (Liga Indonesia) dan sponsor tim.

"Sulit kalau kami, misalnya, mensponsori satu tim sepak bola, sementara sponsor untuk liga (kompetisi) adalah merek lainnya. Soalnya, logo sponsor Liga Indonesia, misalnya, mesti ada di kaus pemain. Kalau sponsor tim, produknya sejenis pasti akan timbul konflik," ujarnya.

Menurut Stephanus, di Indonesia, menjadi sponsor tunggal seakan punya hak juga pada tim yang berlaga. "Ini sungguh aneh sebab seharusnya kan ini dua sisi yang berbeda antara sponsor Liga (Indonesia) dan sponsor tim. Liga (pertandingan) butuh peserta dan peserta butuh pertandingan. Saya melihat, di Indonesia tidak profesional menangani hal ini. Seharusnya, peserta bebas pakai sponsor apa pun termasuk produk sejenis," kata Stephanus.

Sepanjang hal ini dipahami dan saling menghargai pentingnya peran sponsor bagi kehidupan klub dan panitia pertandingan, tak akan ada masalah. "Di luar negeri seperti Eropa, sponsor sejenis tak ada masalah antara tim peserta dan pengelola kompetisi. Bila saling mengetahui arti profesionalisme, kita bisa jalan bersama untuk kemajuan dunia olah raga kita," katanya.

Stephanus memberi contoh di balap sepeda. Sebagai sponsor, mereka membentuk tim balap sepeda profesional pertama di Indonesia, 2003 lalu. Ironisnya, sebagai salah satu tim terkuat tak pernah diundang ke balap sepeda terbesar di tanah air seperti "Tour d'Indonesia" yang disponsori rokok merek lain sebab sponsor lomba keberatan ada tim peserta dengan produk sejenis.

"Yang aneh, pembalap semua tim harus memakai kaus balap berlogo rokok sponsor kejuaraan. Padahal, tim peserta kan punya sponsor sendiri. Siapa yang mau jadi sponsor dengan kondisi seperti itu. Bukannya mempromosikan produk yang memberi dana sponsor, malah kausnya dipasangi logo panitia pertandingan. Ini kan sungguh aneh dan tak masuk akal? Lebih baik jadi sponsor liganya saja. Jadi, bisa memonopoli semuanya, yaitu tim (pemain) dan liganya," kata Stephanus.

Karena kondisi ini yang tak saling mendukung dengan asas saling membutuhkan, mereka akhirnya menghentikan sponsorship di tim balap sepeda, terhitung 1 Januari. "Untuk masuk jadi sponsor tim sepak bola dengan kondisi seperti itu, jelas tak ada faedahnya karena hampir sama yang sudah kami alami di balap sepeda," kata Stephanus.

BUMN juga enggan

Dari kalangan BUMN seperti Bank Jabar, juga bukannya tak berminat jadi sponsor tim Persib sebagai kebanggaan tim Kota Bandung, yang selalu mendapat publikasi luas. Namun, hal itu sulit direalisasikan karena dana yang dibutuhkan sebagai sponsor amat besar, sementara mengeluarkan dana sebesar itu demi mendukung tim sepak bola bisa jadi masalah tersendiri.

"Nanti bisa dibilang KKN oleh BPK," kata seorang pejabat teras Bank Jabar yang tak mau disebut namanya. "Pengalaman kami, untuk mendukung kegiatan olah raga lain di luar sepak bola dengan dana yang tidak begitu besar saja, sudah dituduh KKN dan melanggar ketentuan. Padahal, Bank Jabar misalnya jadi bapak angkat balap sepeda untuk PON lalu atas penunjukan Gubernur Jabar. Kalau niat membantu kegiatan olah raga saja dituding menyelewengkan dana, siapa yang mau ambil risiko berurusan dengan BPK? Sekarang, kalau hanya ditunjuk sebagai bapak angkat cabang olah raga tertentu tanpa jaminan surat dari pejabat negara yang berwenang dengan payung hukum yang jelas, siapa yang mau?" ujarnya.

Selama masalah ini tak terselesaikan, akan sulit mendapatkan sponsor dari perusahaan ataupun BUMN yang berminat, sebab persoalan yang dihadapi sungguh rumit dan semua pihak yang berkepentingan harus duduk satu meja menyamakan persepsi sponsorship olah raga demi peningkatan prestasi.***

Last Updated ( Friday, 02 February 2007 )
 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=