Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Manajemen Klub arrow Klub-Klub Voli Amatir di Bawah Bayang-Bayang Klub Profesional
Skip to content

sloganvoli.jpg

Klub-Klub Voli Amatir di Bawah Bayang-Bayang Klub Profesional PDF Print E-mail
Written by marto   
Monday, 23 August 2010

Minim Kompetisi, Pemain Dicomot
[ Jawapos, Senin, 23 Agustus 2010 ]Siapa pun mengakui prestasi voli Jawa Timur. Klub-klub profesional di Jatim juga menjadi langganan juara di berbagai ajang nasional. Tapi, klub-klub dengan nama besar itu tak pernah membina sendiri atletnya. Mereka hanya mencomot atlet klub amatir tanpa penghargaan yang pantas.

JAWA Timur (Jatim) menjadi kekuatan voli tanah air. Kejuaraan-kejuaraan voli yang dihelat di tanah air hampir selalu didominasi Jatim. Tak heran, skuad tim nasional bola voli wanita dan pria pun mayoritas diisi pevoli-pevoli asal Jatim.

Jatim juga memiliki beberapa klub voli yang telah menjuarai berbagai ajang antarklub. Klub-klub besar tersebut berpusat di Surabaya dan sekitarnya. Di sektor wanita, ada Surabaya Bank Jatim dan Petrokimia Gresik. Di kelompok pria, ada Surabaya Samator dan Sidoarjo Indomaret. Pada 2008 dan 2009 boleh dibilang Jatim merajai hampir semua kejuaraan yang digeber di tanah air. Mulai kejuaraan nasional junior, indoor, sampai voli pantai.

Namun, itu tidak berarti sistem pembinaan voli di Jatim sudah tertata dengan apik. Klub-klub besar tersebut tak memiliki wadah pembibitan atlet sendiri. Dengan kekuatan dana yang mereka miliki, klub-klub itu mencari atlet berbakat ke klub-klub amatir. Tentu saja menjadi pemain klub profesional merupakan mimpi para atlet. Siapa pun yang ditawari masuk ke Surabaya Samator, Sidoarjo Indomaret, Surabaya Bank Jatim, atau Petrokimia Gresik tak mungkin menolak.

Lalu, bagaimana dengan klub amatir yang pemainnya dicomot? Tak ada penghargaan yang pantas. Beberapa klub menyatakan, pemainnya ditukar dengan bola voli. Klub-klub amatir tak bisa apa-apa karena memang tidak ada regulasi tentang perpindahan atlet dari klub amatir ke klub profesional. Nama klub-klub amatir tersebut juga tak pernah terdengar setelah sang atlet menjadi pemain hebat.

Melakukan pembibitan dan pembinaan atlet memang tidak mudah. Beberapa klub profesional sudah mencoba, namun hasilnya kurang menggembirakan. Kalaupun membina, mereka tidak bisa hanya mengandalkan talenta lokal di kota tempat mereka ber-homebase. Tetap harus bergerilya ke daerah-daerah untuk mendapatkan pemain yang hampir jadi. Tak jarang tim tersebut mayoritas berisi pemain dari daerah lain.

Kondisi itu dialami klub Gresik Petrokimia. Ketua Harian Petro, sebutan Gresik Petrokimia, Syamsul Huda mengakui di tim utamanya minim pemain asli Gresik. Di antara total 18 pemain yang menghuni skuad utama dan dimeskan, hanya ada dua pevoli asli Gresik, yakni Lailatul Aisyah dan Claudia Yolanda.

''Kalau mengandalkan pembibitan dari awal, waktunya lama. Selain itu, mencari anak berbakat voli dengan postur yang standar di Gresik ini cukup sulit,'' terangnya. Alhasil, Petro memilih merekrut pemain siap jadi tersebut untuk kemudian dipoles dan diorbitkan.

Dia menambahkan, pembibitan dan pembinaan pemain cukup sulit. Berdasar hasil diskusinya dengan pelatih-pelatih, untuk mendapatkan lima pemain berkualitas, dibutuhkan 50-60 pemain. Sementara itu, pembinaan membutuhkan waktu yang lumayan panjang, 4-5 tahun.

Di sisi lain, even kejuaraan voli terus berjalan dengan agenda yang padat setiap tahun. Tak jarang, persiapan tim cukup mepet, tapi target prestasi yang dibebankan cukup tinggi. Dengan demikian, tim tersebut tidak mungkin membawa skuad seadanya.

''Kalau waktu evennya mepet dan ternyata tim masih memiliki kekurangan, mau tidak mau mereka harus merekrut dari luar. Itu satu-satunya jalan agar kekurangan tertutupi dengan cepat,'' ujar Syamsul.

Karena itu, lanjut Syamsul, harus ada sinergi antara klub profesional dan klub amatir di daerah. Hubungannya harus bersifat simbiosis mutualisme. Apabila prestasinya di klub amatir sudah melebihi pemain lain, dia harus segera disalurkan agar tidak stagnan.

''Prestise dan prestasi itu dua hal yang tak bisa dipisahkan. Karena itu, langkah yang mampu membantu menuai dua hal tersebut harus dilakukan,'' imbuhnya.

Pengprov PBVSI Jatim juga tak terlihat serius mewadahi klub-klub amatir yang ada. PBVSI memang tak memiliki alokasi pendanaan untuk mengantarkan tim-tim amatir bersaing di kancah nasional. ''Kalau lokasi pertandingan dekat-dekat saja dan hanya membutuhkan sedikit biaya, klub amatir bisa tampil, tapi kalau jauh mereka tak memiliki cukup dana. Sebab, mereka tak memiliki sponsor," tutur Murni Hendi Astuti, Sekum Pengprov PBSI Jatim.

Pendanaan, menurut Murni, memang bukan tanggung jawab pengprov. Setiap pengkot dan pengkab bertanggung jawab untuk mendanai kompetisi.

Selain dana, postur pemain ditengarai menjadi faktor tak dimunculkannya tim-tim amatir mewakili Jatim. Postur pemain Bank Jatim dan Petro dinilai lebih ideal daripada pemain klub-klub amatir daerah. Begitu pula di sektor pria. Samator dan Indomaret yang memang diisi pemain-pemain dari klub-klub setanah air dinilai lebih laik mewakili Jatim. ''Tapi, kami tetap menyertakan pemain-pemain terbaik klub amatir untuk menambah kekuatan tim pada kejurnas," ujar Murni.

Nah, sebagai salah satu klub voli yang fokus melakukan pembibitan, Sparta (Sawunggaling Para Taruna) Sidoarjo merasa sering dicurangi klub profesional. Banyak pemainnya yang dicomot begitu saja.

''Dulu periode 80-an, liga amatir klub voli masih marak. Sekarang hanya profesional yang hidup," kata pembina klub Sparta Sidoarjo Hartono. Kegelisahan itu semakin mencuat setelah PBVSI tidak melakukan langkah apa pun untuk memberikan perlindungan bagi klub amatir. (aam/vem/dra/c7/tom)

Last Updated ( Monday, 23 August 2010 )
 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=