Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Fiksi Seputar Voli arrow Pendekar Voli Dari Kaki Gunung Merbabu
Skip to content

sloganvoli.jpg

Pendekar Voli Dari Kaki Gunung Merbabu PDF Print E-mail
Written by ahmad zul   
Monday, 04 June 2012

Cerita ini fiktif semata dan hanya khayalan penulis saja, by : Ahmad Zul

Pendekar, mungkin hanya sebuah istilah untuk menunjukkan betapa tingginya eksistensi mang ‘Jai bagi kemajuan perbolavolian di desanya.
 
Tersebutlah sebuah desa di kaki gunung Merbabu, hanya berpenghuni ya sekitar 400 kepala keluarga dengan jarak lebih kurang 30 km dari ibukota kecamatan, tapi jangan tanya prestasi bola voli dari para pemuda desa setempat.
 
Dengan desa yang tidak terlalu luas, dan mayoritas penduduk adalah petani, maka sebuah kejadian langka jika di desa ini terdapat 6 lapangan bola voli outdoor dan satu lapangan bola voli indoor yang merupakan bekas tempat penggilingan padi.
 
Semuanya atas dorongan seorang pria setengah baya berusia 40 tahun-an dengan tubuh sehat dan atletis. Beliau adalah mantan pemain voli kesohor yang merupakan produk asli desa ini.
 
Mang ‘Jai demikianlah nama beliau, jangan tanya saya siapa nama asli atau nama panjang beliau, karena memang saya tidak tahu dan tidak suka untuk mencari tahu.

Setiap 3 bulan sekali diadakanlah turnamen antar klub, yang terdiri dari 6 klub mewakili 6 RW di lapangan indoor eks penggilingan padi tersebut. Enam klub peserta bukan klub sembarangan, karena hampir di setiap klub tersebut terdapat pemain level kabupaten, propinsi dan nasional.

Klub pertama bernama ‘Angin Senja’, klub ini telah berdiri selama 7 tahun, telah menghasilkan 3 atlet nasional, 8 atlet propinsi dan 15 atlet kabupaten. Sang ketua yang merangkap ketua RW, yaitu paklik Mojo pernah saya tanya kenapa klub dari RW-01 tersebut bernama Angin Senja? Sambil menyeruput kopi hangat buatan istrinya, sambil duduk bersila di bale-bale teras rumah beliau menjawab.
 
Suatu sore paklik Mojo dan para RT di RW-nya sedang kongkow di depan rumahnya untuk membentuk klub voli, saat itu menjelang maghrib tiba-tiba angin mendesir halus menerpa tubuh mereka, dan secara reflek ‘lik Mojo berujar oh… angin senja…, secara reflek pula para ketua RT berujar itu nama yang bagus untuk sebuah klub voli. Maka hingga saat ini RW-01 diwakili oleh klub ‘Angin Senja’.

Klub yang kedua mewakili RW-02 bernama ‘Doa Ibu’, mengenai nama klub inipun sempat saya tanyakan kepada ketuanya yang juga merangkap ketua RW-02 yaitu pakde Surya. Sambil memilin rokok kretek kegemarannya beliau menjelaskan. "Apalah artinya kita tanpa doa ibu dik," jawab beliau sambil berpetuah dan dengan mimik yang serius, dalam hati saya menjawab benar juga pakde Surya, apalah artinya kita…

Sementara klub yang ketiga ternyata namanya lebih nyentrik dari dua klub terdahulu, yaitu ‘Tangan Baja’. Usut punya usut ternyata sang ketua RW-03 sebagai ketua klub adalah seorang pemilik bengkel las yang sehari-hari berkutat dengan besi dan baja, dalam hati saya membathin, oo… pantas saja…

Klub yang keempat bernama ‘Proslank’, wah ini nama juga cukup nyentrik dalam hati saya, ternyata dugaan saya tidak meleset jauh. Ketua RW-04 ini yang berwajah imut-imut mirip Abdee Slank adalah pendirinya.
 
Beliau adalah ‘Slanker’ sejati, sehingga apapun kegiatan beliau selalu dikaitkan dengan nama Slank, termasuk warung nasi milik istrinya bernama ‘mbakslank’ bahkan bengkel motor milik anak tertuanya bernama ‘Gasslank’. Demikianlah kecintaan mas Ponco akan grup band Slank yang seiring sejalan dengan kecintaan beliau pada bola voli.

RW-05 diwakili oleh Klub ‘Nawang Wulan’, hmm… nama yang juga misterius menurut saya. Suatu hari saya menyambangi sang ketua klub yang sedang mengamati atletnya serius berlatih, tanpa berniat menggangu saya bertanya, "Lik kok klubnya dikasih nama ‘Nawang Wulan’?" tanya saya setengah berbisik.
 
Sambil membetulkan kopiahnya ‘lik Sarji berujar, "Begini lho dik, tapi ini rahasia kita berdua saja ya," kata beliau, saya mengangguk mengiyakan ucapan ‘lik Sarji. "Sebenarnya Nawang Wulan itu nama pacar saya waktu SMA dulu, beliau meninggalkan saya karena orangtuanya tidak setuju anaknya pacaran dengan saya," mata ‘lik Sarji menerawang jauh mengenang masa-masa SMAnya dulu…
 
Wah… wah.. ternyata ‘lik Sarji ini sangat romantis dan sentimentil kalau istilah anak sekarang ‘melo’. Dalam hati saya bergumam gimana kalau sampai istri ‘lik Sarji tahu bahwa itu nama sang mantan? Mungkin istri ‘lik Sarji minta nama klub diganti jadi ‘Mbok Ngatiyem’ (sesuai nama istri ‘lik Sarji) wah bisa berabe ni… apalagi nama klubnya kan jadi enggak komersial ya? Atau malah menjadi lebih komersial? Ah gimana pembaca saja deh…

Klub terakhir di desa ini bernama ‘Serumpun Bambu’, kenapa serumpun bambu? Tanya saya penasaran. Ternyata kepenasaran saya tidak berlangsung lama, saat saya ngobrol dengan pak camat di kantor kecamatan, beliau menjelaskan bahwa klub itu diurus oleh adik iparnya, dan diberi nama itu karena adik iparnya tersebut seorang pengrajin bambu untuk rumah tradisional, oo… pantas… kata hati saya.

Jadi setiap tiga bulan maka bertarunglah klub Angin Senja, Doa Ibu, Tangan Baja, Proslank, Nawang Wulan dan Serumpun Bambu untuk memperebutkan piala bergilir dari Kepala Desa dengan mang ‘Jai sebagai motor turnamen. Dengan manajemen yang baik dan kerjasama yang rapi maka panpel tidak pernah kesulitan memutar roda kompetisi.

Biaya penyelenggaraan juga bukan masalah bagi penggila voli di desa ini. Semuanya bahu membahu di bawah binaan mang ‘Jai sehingga selalu terkumpul dana yang cukup.

Atlet berprestasi dari desa ini akan dikirim ke pemusatan latihan di kabupaten, sehingga lahirnya atlet nasional hanya tinggal menunggu waktu, sebuah kegilaan yang positif.

Awalnya desa ini bernama Mekar Rahayu, tapi berkat prestasi volinya, saat ini sedang diusulkan ke DPRD kabupaten untuk mengganti nama desa tersebut menjadi ‘Pendekar Voli’. Hmm… sebuah perjuangan panjang dari seorang pendekar… (Khayalan di sebuah Sabtu sore (100911) di jalan Gambir kota Bandung).

Last Updated ( Wednesday, 06 June 2012 )
 
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=