Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda
Skip to content

Login Form






Lost Password?

Who's Online

We have 2 guests online

Visitors Counter Since 4 Feb 2012

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday876
mod_vvisit_counterYesterday2680
mod_vvisit_counterThis week9149
mod_vvisit_counterThis month26393
mod_vvisit_counterAll4989887

sloganvoli.jpg

Kompak Dengan Bahasa Jawa PDF Print E-mail
Written by mawahib affandhy   
Wednesday, 17 September 2014

Kompas edisi cetak 13 September 2014, hal. 30

oleh: Aswin Rizal Harahap

Ada banyak cara untuk membangun kekompakan. Salah satunya dengan menggunakan bahasa ibu. Di tim voli pantai Indonesia, yang kebetulan berisi atlet putra dari Yogyakarta dan Sidoarjo, Jawa Timur, bahasa Jawa menjadi alat komunikasi sehari-hari. Percakapan dalam bahasa Jawa menyertai aktivitas mereka sejak bangun pagi, latihan, hingga beristirahat di malam hari.

Dian Putra dan Fachriansyah

photo by kompas

"Ayo Yan, rodho cepet (Ayo Yan, agak cepat). Nek telung menit durung siap, mendingan kowe mlaku wae, yo (Kalau dalam tiga menit belum siap, lebih baik kamu jalan kaki saja, ya)," ujar pelatih voli pantai Andy Ardiansyah kepada salah satu anggota tim, Dian Putra Santosa, di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, suatu pagi di pertengahan Agustus.

Kamis pagi itu, Dian agak terlambat bersiap untuk latihan karena sarapan agak banyak. Ketika teman-temannya hanya makan setangkap roti dan buah, ia melahap juga nasi, sayur sup, dan ayam goreng yang disediakan pengelola hotel. "Ini hari Kamis. Kalau makan hanya sedikit, nanti bisa loyo saat latihan," ungkap atlet asal Yogyakarta itu.

Bagi sebagian besar cabang olahraga, Kamis merupakan hari "keramat". Hari itu menjadi puncak pelaksanaan program latihan selama sepekan. Bobot latihan pun ditambah menjadi 2-3 kali lipat dari biasanya. Namun, program yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu tak membuat anak-anak voli pantai gentar. Mereka tetap menjalaninya penuh semangat demi nama Indonesia di Incheon.

Dian bergegas turun ke lobi menyusul tiga rekannya. Koko Prasetyo Darkuncoro, Ade Candra Rachmawan, dan Fachriansyah, yang sudah bersiap di mobil jenis wagon milik PP PBVSI. Mobil yang mereka juluki "Alphard" itu dikemudikan sendiri oleh Andy, sang pelatih.

"Alphard"

photo by kompas

Tak sampai 10 menit, mereka tiba di tempat latihan kompleks Gelora Bung Karno, Senayan. Ketika atlet mulai pemanasan, Andy memutar lagu disco berirama cepat dengan volume maksimal. Alunan musik menggedor adrenalin pemain saat masuk arena latihan pukul 07.00.

Latihan didahului dengan lari keliling lapangan selama 12 menit. Koko, pemain paling senior di tim, menambah variasi gerakan dengan lompatan. Stamina atlet berusia 33 tahun itu masih prima. Tak kalah dengan Dian (28), Chandra (22), dan Fachriansyah (22) yang akrab disapa Gundul.

Sebelum masuk latihan inti, Koko mengajak rekan-rekannya bermain kucing-kucingan. Andy si pelatih yang baru pensiun dua tahun lalu sebagai atlet, ikut serta. Empat pemain membentuk lingkaran kecil mengelilingi satu orang yang wajib berebut bola. "Sing kalah kudu squad jump ping rong puluh (Yang kalah harus melakukan squad jump 20 kali)," ujar Koko dengan logat Yogyakarta yang kental.

Maka ketika akhirnya Koko yang terkena hukuman, yang lain pun menertawai dirinya. Tak jarang ejekan dalam bahasa Jawa meluncur dari mulut mereka. Suasana latihan terasa begitu akrab. "Bahasa Jawa membuat kami lebih nyaman. Seperti tidak ada jarak antara pelatih dan pemain ataupun senior dengan yunior," ujar Koko.

Voli Pantai

photo by kompas

Koko, Chandra, dan Dian telah saling mengenal sejak lama. Mereka menimba ilmu voli di klub voli indoor Ganevo Yogyakarta. Koko lalu menekuni voli pantai pada 1995, yang diikuti Chandra dan Dian beberapa tahun kemudian. Adapun Gundul berasal dari klub Sparta Sidoarjo yang bersinar dalam kejuaraan voli pantai beberapa tahun terakhir.

Setelah kaki terasa enteng dalam permainan kucing-kucingan, barulah latihan masuk pada sesi simulasi pertandingan. Koko berpasangan dengan Chandra sebagai tim Indonesia 1, sementara Dian/Fachriansyah masuk tim Indonesia 2.

Pada sesi pertama, Koko/Chandra bertugas menyerang lebih dulu. Dengan posisi yang lebih diuntungkan, tim penyerang baru mendapat poin setelah tiga kali memasukkan bola. Sebaliknya, Dian/Fachriansyah langsung mendapat poin saat mematahkan serangan lewat blok.

Kendati usianya sudah kepala tiga, penampilan Koko masih cekatan. Smesnya keras dan penempatan bolanya sering kali mengecoh pasangan Dian/Fachriansyah. Umpan-umpan Koko yang terukur memudahkan Chandra menghantam bola sekeras-kerasnya ke area lawan.

"Di voli pantai, Anda harus bisa smes, blok, umpan, dan menerima bola sekaligus. Jauh lebih berat daripada bola voli indoor," kata Koko. Ia adalah salah satu pemain yang komplet karena mampu bermain voli pantai dan indoor dengan sama baiknya.

Koko dan Chandra

photo by sportanews

Kerja sama mereka mulai mendekati penampilan saat menjuarai Asian Beach Games 2012 di Haiyang, Tiongkok. Pasangan Dian/Fachriansyah pun takluk dalam tiga gim selama satu jam itu. "Saling pengertian Koko/Chandra semakin bagus setelah tak berpasangan sejak 2013," kata Andy tentang pasangan yang ditargetkan meraih perak di Incheon nanti.

Koko tertantang untuk memenuhi target itu. Ini merupakan Asian Games ke empat sejak pertama kali tampil pada Busan 2002. Di sana, ia dan Agus Salim membawa pulang perak.

"Semoga memori indah itu terulang lagi di Asian Games terakhir saya," kata pria yang rutin mengikuti Turnamen Voli Indoor Proliga sejak 2002 itu.

Pada sesi kedua, ketika Koko/Chandra mendapat giliran bertahan, mereka kembali tampil solid. Chandra kokoh membendung smes di depan net, sedangkan Koko cerdik membaca arah bola hasil tipuan lawan. Dian/Fachriansyah menyerah dalam 30 menit.

Andy pun marah dengan penampilan buruk tim Indonesia 2. Ia menggenjot pasangan Dian/Fachriansyah dengan sesi latihan tambahan di tengah kian teriknya sinar matahari. Keduanya berlatih smes, umpan, menerima bola, dan melompat berulang kali hingga waktu menunjukkan pukul 11.30.

Dian beberapa kali membungkuk sambil memegangi perutnya, seperti kram. Keringat mengucur deras membasahi tubuhnya yang kekar. Nafasnya terengah-engah menahan letih. "Itu akibat kalau tampil di bawah standar," ujar Koko saat beristirahat di bawah teduhnya pepohonan.

Suasana kembali cair ketika latihan usai. Dian menjadi bahan olok-olok tim dalam perjalanan pulang ke Hotel Century yang menjadi markas sebagian besar atlet pelatnas. Tim voli pantai mendapat kamar di lantai 3, persis di seberang kamar sprinter Dedeh Erawati.

Main PlayStation

Kamar yang ditempati Koko/Chandra berukuran 4x10 meter persegi. Kamar itu terasa lapang karena pakaian tergantung rapi di bentangan besi. Yang terpasang di dinding. Suasana nyaman dengan penyejuk ruangan.

Play Station

Kamar Koko/Chandra menjadi tempat favorit berkumpul karena ada PlayStation. Saat waktu luang, mereka mengisinya dengan bermain gim sepak bola. Koko paling ekspresif saat bermain gim. Ia selalu berteriak girang ketika menang dan mengomel saat kalah. Saling ledek di antara pemain kian menambah akrab suasana.

Saat perut mulai keroncongan, mereka pun bersiap makan siang. Hari Kamis, seusai latihan berat, saatnya santap siang di luar hotel. Tim voli pantai sepakat mengagendakan makan bersama di restoran, minimal sekali dalam sepekan.

"Namun, kadang kala, ketika kurang sreg dengan menu makanan hotel, kami langsung meluncur ke rumah makan favorit," kata Dian yang memang palin doyan makan.

Dian dan kawan-kawan memiliki beberapa tempat makan langganan, seperti ayam penyet di Bendungan Hilir, sate kambing di Pejompongan, dan sup buntut di kawasan Patal Senayan.

Tak jarang pula mereka makan di pusat perbelanjaan fX yang bersebelahan dengan hotel. Seperti siang itu, mereka memilih bersantap di restoran Malaysia. Dian memesan nasi putih, seporsi gulai ayam, dan cah brokoli. "Ayamnya satu atau dua potong, Mas?" tanya pelayan. "Dua," jawab Dian.

Dan, ketika nasinya habis, ia memesan satu porsi lagi. Dian pun kembali menjadi obyek ledekan rekan setimnya. "Yan, kuwi jenenge (itu namanya) portugal alias porsi tukang gali. Ha-ha-ha," ujar Koko.

Latihan sore kembali diisi dengan sesi simulasi pertandingan yang menguras tenaga. Berbeda dengan cabang lain, latihan berat justru menjadi menu yang wajib dilakoni tim voli pantai.

"Teknik tak akan berjalan sempurna tanpa ditopang stamina prima. Apalagi, kondisi pasir di Korea Selatan lebih halus sehingga menuntut tenaga lebih besar dari pemain," kata Andy.

Saat petang kian temaram, mereka kembali ke hotel. Meninggalkan semua rasa letih di atas lapangan. Sebelum beranjak tidur, tak lengkap rasanya kalau belum bermain PlayStation.


Pasangan Indonesia 1:
1. Koko Prasetyo Darkuncoro
Lahir: Yogyakarta, 2 Oktober 1981
Tinggi: 1,85 meter
Prestasi :
-) Perak Asian Games Busan 2002. Berpasangan dengan Agus Salim
-) Emas SEA Games Vietnam 2003 (Agus Salim)
-) Emas Kejuaraan Dunia Antar Perguruan Tinggi Thailand 2004 (Agus Salim)
-) Perak SEA Games Filipina 2005 (Agus Salim)
-) Emas SEA Games Thailand 2007 (Andy Ardiansyah)
-) Emas Asian Beach Games Bali 2008 (Andy Ardiansyah)
-) Juara Turnamen Indonesia Terbuka 2008, 2009, 2010 (Andy Ardiansyah)
-) Juara Turnamen Asia Pasifik 2010 2011 (Andy Ardiansyah)
-) Emas SEA Games Jakarta/Palembang 2011 (Andy Ardiansyah)
-) Juara Asian Beach Games Tiongkok 2012 (Ade Chandra Rachmawan)

2. Ade Chandra Rachmawan
Lahir: Yogyakarta, 3 Desember 1992
Tinggi: 1,90 meter
Prestasi:
-) Perak Turnamen Asia Pasifik 2010 berpasangan dengan Dian Putra Santosa
-) Perak SEA Games Jakarta/Palemban 2011 (Dian Putra Santosa)
-) Emas Asian Beach Games Tiongkok 2012 (Koko Prasetyo Darkuncoro)


Pasangan Indonesia 2:
1. Dian Putra Santosa
Lahir: Yogyakarta, 14 Agustus 1986
Tinggi: 1,88 meter
Prestasi:
-) Juara kejuaraan Nasional Voli Pantai Kalimantan Timur 2007, berpasangan dengan Suratno
-) Perak Turnamen Asia Pasifik 2010 (Ade Chandra Rachmawan)
-) Peringkat keempat Asian Beach Games Tiongkok 2012 (Fachriansyah)

2. Fachriansyah
Lahir: Sidoarjo, 18 Maret 1992
Tinggi: 1,85 meter
Prestasi:
-) Peringkat keempat Asian Beach Games Tiongkok 2012, berpasangan dengan Dian Putra Santosa

Last Updated ( Thursday, 18 September 2014 )
 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=