Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Profil Pemain arrow Proliga 2016 Puncak Transformasi Novita Dinda
Skip to content

sloganvoli.jpg

Proliga 2016 Puncak Transformasi Novita Dinda PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 19 May 2016

JawaPos.com - Pada awal gelaran Proliga 2016, tidak sedikit yang meragukan kualitas Novita Dinda Pratama sebagai setter tim putri Jakarta Elektrik PLN. Namun, perlahan dara berusia 21 tahun itu sanggup menjawab keraguan dengan bertransformasi menjadi setter andal.

Dinda memang baru tahun ini mendapat kesempatan menjadi starter. Pada Proliga 2015, dia masih menjadi pelapis Tri Retno Mutiara atau yang akrab disapa Tiara.

Kepindahan Tiara ke Jakarta Pertamina Energi menjadi awal Dinda menjemput kesempatan menjadi salah satu dari starting VI. Pada awalnya, sulit bagi Dinda untuk memerankan setter utama di tim juara bertahan.

Namun, keinginan dia untuk belajar dengan giat berbuah hasil manis. Perlahan, permainan Dinda semakin membaik. Umpan-umpan matangnya mulai mampu memanjakan para pemain Elektrik PLN.

"Menjadi starter di tim tertekan sih nggak. Hanya saja, mental saya masih kurang. Kadang kalau bingung, saya masih suka linglung. Soalnya penglaman masih kurang dibanding yang lain," bilang Dinda.

Dinda mengaku titik balik kebangkitannya cenderung cukup telat. Kekalahan dari Pertamina Energi pada putaran kedua final four di Yogyakarta memaksa Dinda menambah porsi latihan agar bisa lebih baik dan tampil sempurna pada pertandingan grand final.

"Adaptasi saya sejak dipilih menjadi starter memang cukup lama. Kadang saya bagus, kadang bisa menurun lagi. Menjelang akhir, saya latihan ekstra. Titik balik sejak kekalahan dari Pertamina di Yogyakarta. Saya diminta harus cepat klik dengan pemain lain. Pada akhirnya, saya mengambil latihan tambahan," kenang dara kelahiran 19 November 1995 ini.

Pada partai grand final, Dinda tampil cukup tenang di beberapa set. Meski yang dihadapi adalah mantan setter utama Elektrik PLN, Tiara, tak ada perasaan ciut atau sungkan di dalam diri Dinda.

Alhasil, Dinda sanggup membawa Elektrik PLN menang 3-2 sekaligus mempertahankan gelar juara Proliga.

"Alhamdulillah kami masih bisa mempertahankan gelar juara. Kami semua kompak. Semua berkat latihan selama enam bulan. Saya berterima kasih kepada semua, terutama kepada Kak Mei (panggilan untuk pelatih Tian Mei dari para pemain Elektrik PLN). Gelar juara ini saya persembahkan untuk orang tua, pelatih, dan semua teman," papar pevoli dengan tinggi badan 170 centimeter ini.

Meski baru tahun ini menjadi setter utama, ternyata Dinda juga sempat menyimpan mimpi meraih penghargaan individu, best setter. Akan tetapi, penghargaan itu jatuh ke tangan setter Gresik Petrokimia, Shinta Ainni Fathurrahmi.

Dinda sadar dengan kemampuannya yang belum maksimal sehingga tak terlalu kecewa gagal mewujudkan mimpi itu. "Memang saya sempat berharap jadi best setter. Tapi ternyata belum berhasil. Saya sadar di antara yang tampil di Proliga, saya paling baru (jam terbang sebagai starter)," jelasnya.

Meski memilih merendah dengan kemampuannya, nyatanya Dinda sudah mampu meraih pujian dari pelatih Tian Mei. "Kalau sebelumnya cuma bisa mengoper, sekarang Dinda sudah bisa main bola tipu. Tapi konsentrasinya masih suka terganggu. Paling penting, Dinda mau belajar," puji pelatih asal Tiongkok itu. (ira/JPG)

 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=