Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Serba-Serbi arrow Klub Bola Voli Sparta Sidoarjo, Dulu Profesional, Kini Hanya Pembinaan
Skip to content

sloganvoli.jpg

Klub Bola Voli Sparta Sidoarjo, Dulu Profesional, Kini Hanya Pembinaan PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 09 January 2017

Uang Iuran Hanya Cukup untuk Biaya Operasional Klub

Klub Sparta kini tidak lagi tenar seperti masa kejayaan pada 1970 dan 1980-an. Namun, dengan segala keterbatasan, Sparta masih melahirkan bibit-bibit pemain voli.

RIZKA PERDANA, Sidoarjo

---

Jawapos.com - MINGGU pagi (25/12) suasana di sudut sebelah barat selatan Alun-Alun Sidoarjo tampak ramai. Selain karena acara car free day (CFD), situasi semakin semarak dengan adanya sekelompok anak yang berlatih voli. Beberapa orang yang mengikuti CFD tak jarang berhenti untuk ikut melihat latihan. Mereka bergabung dengan beberapa orang tua yang menunggui anaknya latihan dari balik pagar.

Masuk lebih dekat ke dalam lapangan, terdapat empat pelatih yang membimbing anak-anak berlatih voli. Salah satunya Ahmad Kamal Assegaf, pelatih kepala klub bola voli Sparta. Kamal tampak memimpin latihan dengan penuh semangat dan energik. Tak jarang dia turun ke tengah lapangan untuk memberikan contoh langsung latihan yang benar.

Klub bola voli Sparta kini hanya memfokuskan diri membina anak-anak usia dini sampai junior. Hal itu, tentu saja, berbeda jika dibandingkan dengan masa kejayaan Sparta pada 1970 hingga akhir 1980. Ketika itu Sparta merupakan tim yang cukup disegani di tingkat nasional. "Dulu Sparta bukan klub biasa, bukan hanya pembinaan," ujar Kamal.

Sparta pada era itu merupakan kumpulan pemain-pemain terbaik dari banyak klub di Sidoarjo. Brimob Porong, Pabrik Gula Watu Tulis, dan Krembung merupakan beberapa di antara banyak klub yang menyumbangkan pemain untuk Sparta. "Pemain yang sudah jadi baru dikumpulkan di sini (Sparta)," kenang pria berusia 65 tahun tersebut.

Pada zaman kejayaannya, Sparta dikenal sebagai gudang pembinaan atlet voli pria. Nama-nama semacam Slamet Mulyanto, Nur Mufid, dan Jimo Abdul Kadir lahir dari klub Sparta. Mereka menjadi andalan Jatim, bahkan tim nasional.

Namun, kini keadaan berbalik. Banyak pemain asli Sparta yang justru pindah ke klub lain. Maklum, Sparta memang bukan lagi klub yang dikelola secara profesional. Tetapi sebatas klub yang berfokus pada pembinaan. Ketika dirasa cukup matang untuk bermain di tingkat profesional, pemain juga akan pindah ke klub yang memberikan gaji ketika bermain. Malah lebih banyak pemain yang memilih melanjutkan bekerja daripada menjadi atlet.

"Kalau klub profesional membayar pemain, kita malah anggotanya yang membayar," ujar Kamal. "Sparta dikelola dari atlet untuk atlet," tambah pria yang mulai melatih Sparta sejak 2001 itu.

Halimah, salah satu orang tua pemain, mengungkapkan, tiap bulan dirinya membayar iuran sekitar Rp 50 ribu. Anaknya, Dina May Yunitasari, membela Sparta sejak 2014. "Dulu malah pernah sekitar Rp 30 ribu saja," kata Halimah.

Dana yang dikumpulkan dari para anggota, menurut Kamal, bisa dikatakan cukup untuk biaya operasional klub. Uang masuk digunakan secara rutin untuk merawat pagar, membeli bola, dan jaring baru. Namun, dana yang ada belum cukup untuk membuat lapangan yang lebih layak. Terlebih memberikan upah kepada sembilan pelatih. Kemal menegaskan bahwa niat pelatih yang membimbing di Sparta lebih pada kesadaran, bukan mencari untung. "Mereka hanya dapat uang transpor. Paling banyak cuma Rp 500 ribu," ujar Kemal.

Bambang Sunaryanto, salah seorang asisten pelatih Sparta, membenarkan hal itu. Bambang mengatakan, dirinya dan asisten pelatih lainnya hanya mendapat uang transpor ketika ada event. "Kami di sini namanya juga menjalani hobi. Pelatih di sini kan juga pemain dulunya," ujar Bambang.

Jumlah pelatih di Sparta kini makin berkurang. Pada 2013 masih ada 15 pelatih. Sekarang beberapa pelatih membentuk tim sendiri. Dengan berkurangnya jumlah pelatih tersebut, mau tidak mau tim pelatih bekerja lebih berat. "Jumlah anggota yang banyak tidak seimbang dengan jumlah pelatih," kata Bambang.

Keterbatasan finansial juga membuat Sparta tidak bisa mengikuti berbagai kompetisi secara mandiri. Terutama ketika turnamen digelar jauh dari kota Sidoarjo, Sparta memilih tidak ikut. Biaya menginap, makan, dan transportasi dianggap cukup membebani. Menurut Kamal, Sparta akhirnya lebih sering membantu daerah pada kejuaraan daerah atau mengikuti kejuaraan yang berlokasi di sekitar Sidoarjo. "Kalau deket-deket sini ikut, seperti Piala Wali Kota Surabaya," ungkap Kamal.

 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=