Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Profil Pemain arrow Nizar Zulfikar yang Mengidolai Loudry Maspaitella
Skip to content

sloganvoli.jpg

Nizar Zulfikar yang Mengidolai Loudry Maspaitella PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 07 February 2017

PALEMBANG, JUARA.net - Nizar Zulfikar merupakan salah satu tosser andalan tim bola voli putra Surabaya Bhayangkara Samator pada Proliga 2017.

Nizar Zulfikar

Tahun lalu, pemain berusia 24 tahun ini berhasil mengantar Samator menjuarai Proliga 2016. Di balik kesuksesannya bersama tim yang bermarkas di Driyorejo, Gresik ini, dia sempat tidak menyukai cabang olahraga voli.

"Awalnya saya tidak suka voli. Saya pernah menekuni tenis meja, tenis lapangan, dan renang. Renang saya tekuni cukup lama dengan bergabung di klub Pesut, Kalimantan Timur (Kaltim)," kata Nizar kepada JUARA di Hotel Batiqa, Palembang.

"Saat kelas 4 Sekolah Dasar (SD), saya sering memperhatikan kakak perempuan saya berlatih voli. Saya lalu ikut-ikutan bermain dan Ayah meminta saya berlatih dengan mengetes bola ke dinding," ucap Nizar.

Sejak saat itu, Nizar mulai tertarik menggeluti voli hingga sekarang.

Ayah Nizar, Munawar adalah seorang mantan pemain voli tingkat daerah. Selama berlatih, mahasiwa Universitas Yos Sudarso ini mengaku bermain kurang baik sebagai tosser.

"Tetapi, saya bertekad ingin menjadi tosser seperti mas Loudry Maspaitella yang bisa bermain awet di voli. Karena itu, saya setiap hari latihan bola di tembok untuk memperbaiki teknik," tutur pemilik tinggi badan 183 sentimeter (cm) ini.

Meskipun tidak pernah mengikuti Kejuaraan Daerah (Kejurda), Nizar mendapat panggilan untuk bergabung dengan timnas junior saat masih mengenyam pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

"Saya dipanggil karena timnas kurang tosser. Saat itu, ada tosser yang mengundurkan diri sehingga posisi tersebut ditawarkan kepada saya. Saya kemudian dikenalkan dengan Mas Sigit (Ari Widodo, asisten pelatih Samator) dan diajak mengunjungi markas Samator," kata Nizar.

"Ketika liburan sekolah SMP kelas 3, saya main ke Samator diajak mantan pelatihnya, pak Mashudi. Beliau ternyata temah Ayah. Pak Mashudi tidak memaksa saya untuk bergabung. Jadi, saya lihat suasana di sana dulu," ujar Nizar.

Saat itu, ada dua tim yang dia pertimbangkan yakni Samator dan Indomaret. Nizar memutuskan memilih Samator karena mengetahui reputasi tim dalam peta persaingan voli di Tanah Air.

"Disana juga ada pemain idola saya, Joni Sugiyatno. Sebelum diterima, saya diwawancara oleh pelatih Samator, Li Qiujiang. Mulai dari umur hingga tinggi badan," kata Nizar.

"Saya datang jam 9 pagi. Malamnya, saya langsung dikasih kostum oleh Mr Li. Ternyata saya resmi diterima, tepatnya pada Juli 2010," ucap Nizar.

Ketika bergabung dengan Samator, Nizar sempat ingin kabur karena latihan yang dijalaninya cukup berat.

"Tetapi, keluarga meminta saya bersabar menjalaninya. Akhirnya, saya menikmati rutinitas berlatih," aku bungsu dari dua bersaudara ini.

Setahun bergabung dengan Samator, Nizar terpilih masuk timnas junior. Pada debutnya di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) 2011, dia berhasil membawa timnya menjadi juara.

Pada tahun yang sama, pria yang punya hobi menonton film ini lalu mengikuti Junior Asian School Boys 2011 di Iran. Dia diangkat sebagai kapten tim dan Indonesia berhasil menembus posisi empat besar.

Nizar juga mengantar tim Merah Putih menjuarai ASEAN School Games 2012 setelah mengalahkan Thailand pada babak final.

Meskipun menjalani kesibukan sebagai atlet sambil sekolah, prestasi akademik Nizar tetap baik. Dia selalu masuk rangking 10 besar.

"Ibu saya seorang guru. Dia selalu mengingatkan saya, meskipun sibuk latihan voli, sekolah jangan abal-abal. Saya bersekolah di SMA Wahid Hasyim. Tidak sama dengan teman-teman Samator di mes," katanya.

Selama menjadi pemain, Nizar pernah merasakan periode yang membuat motivasinya menurun. Saat itu, Samator lebih memercayakan pemain asing sebagai tosser pada Proliga 2016.

"Ayah mengingatkan saya untuk bersabar. Sebagai tosser, saya harus sabar dan tidak egois dan melayani permintaan teman-teman dalam tim," ujarnya.

Samator saat itu memiliki dua tosser yang kerap turun bergantian yakni Nizar dan pemain asal Kuba, Pedro Lopez Fernandez.

Nizar kemudian berusaha keras agar tidak menjadi tosser cadangan. Hasilnya, pada dua laga awal babak empat besar menghadapi Jakarta BNI Taplus dan Palembang Bank Sumselbabel, Nizar lebih banyak digunakan sebagai tosser utama.

Dia juga dipercaya turun saat menjalani laga final Proliga 2016 yang mengantar Samator meraih gelar kelima.

Ke depan, Nizar bermimpi bisa mewakili Indonesia pada SEA Games Malaysia 2017.

"Saya ingin seperti Mas Loudry. Indonesia saat ini banyak memiliki tosser bagus. Yang terpenting, saya terus menampilkan performa terbaik," kata pria yang pernah bercita-cita menjadi pilot ini.

Selain itu, dia bertekad membawa Samator kembali meraih titel juara Proliga 2017. Hingga putaran pertama seri II Proliga, Samator sudah mengantongi dua kemenangan.

Mereka akan menjalani laga terakhir di Palembang dengan melawan Jakarta BNI Taplus, Minggu (5/2/2017).

Last Updated ( Tuesday, 07 February 2017 )
 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=