Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Profesional Liga arrow Di Balik Makin Minimnya Peserta Proliga
Skip to content

Login Form






Lost Password?

Visitors Counter Since 4 Feb 2012

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday398
mod_vvisit_counterYesterday2150
mod_vvisit_counterThis week4710
mod_vvisit_counterThis month31215
mod_vvisit_counterAll5570418

sloganvoli.jpg

Di Balik Makin Minimnya Peserta Proliga PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 10 January 2019
Biaya Tim Setara Empat Alphard

Saat pertama digelar pada 2002, Proliga diikuti 16 peserta. Masing-masing delapan tim di sektor putra dan putri. Dari tahun ke tahun, peserta bukannya bertambah. Namun, jumlahnya malah menyusut. Penyebabnya, mahal. Berapa yang dibutuhkan tim voli dalam satu musim kompetisi?

---

RASANYA baru kemarin Proliga 2019 digelar. Eh, besok (11/1) kompetisi voli profesional tanah air tersebut sudah masuk putaran kedua. Cepat sekali. Jelas saja cepat. Sebab, jumlah serinya memang sangat sedikit. Hanya enam seri untuk dua putaran. Itu terjadi karena minim peserta. Enam tim putra dan lima tim putri.

Itu bikin miris. Sebagai kompetisi kasta tertinggi, Proliga menjadi ajang seleksi pemain timnas yang akan dikirim ke berbagai multievent. Mulai SEA Games hingga Asian Games. Untungnya, di Asia Tenggara kita masih bisa bersaing. Namun, di level Asia, lupakan saja.

Lalu, apa yang bikin minat peserta Proliga menurun dari tahun ke tahun? Sederhana. "Mahal," kata Hanny Surkatty, direktur Proliga. Untuk mendaftar jadi peserta, tim harus membayar Rp 75 juta. "Tapi, membiayai tim yang membutuhkan biaya sangat besar. Terutama buat gaji pemain," papar dia.

Di satu sisi, kata Hanny, gaji besar baik untuk keberlangsungan hidup para pevoli jika liga sedang off. Namun, di sisi lain, hal itu membuat tim-tim voli enggan mengikuti Proliga jika tidak punya penyandang dana yang sangat kuat. Akibatnya, yang terjadi seperti saat ini. Peserta Proliga bukanlah tim voli murni yang mendapat sponsor. Namun, mereka merupakan tim binaan perusahaan yang peduli kepada voli.

Jawa Pos melakukan survei terhadap peserta Proliga 2019. Secara kompak, mereka mengatakan bahwa gaji pemain memakan hampir 60 persen anggaran tim per musim. Terlebih jika mereka punya pemain asing. Gajinya bisa berlipat-lipat.

Ambil contoh Bandung Bank BJB Pakuan. Mereka mengontrak Maja Burazer, open spiker asal Kroasia. Untuk ukuran pemain yang sudah berusia 30 tahun, BJB Pakuan harus merogoh kocek USD 250 ribu, atau setara dengan Rp 3,5 miliar untuk semusim. "Jumlah itu bisa buat menggaji sepuluh pemain lokal," kata Ayi Subarna, manajer BJB Pakuan.

Selama menjalani tur dari kota ke kota, tim perlu naik pesawat dan menginap di hotel. Maskapai penerbangannya bonafide dan hotelnya standar bintang 4. Jika menang, manajer tim akan membawa pemainnya makan-makan di restoran yang fancy. Totalnya berapa? "Ya, kalau dibelikan Alphard, bisa dapat empat lah," ucap Ayi. Jika satu unit seri mobil keluarga premium Toyota itu antara Rp 1 miliar hingga Rp 1,8 miliar, tim membutuhkan duit antara Rp 4 miliar sampai Rp 7,2 miliar per musim.

Sedihnya, tidak ada jaminan tim mendapat keuntungan finansial dengan mengikuti Proliga. Juara hanya mendapat hadiah Rp 1,5 miliar. Tidak setara dengan pengeluaran. Lalu, mengapa masih ada yang setia menjadi peserta? Misalnya, Jakarta BNI 46 dan Surabaya Bhayangkara Samator.

"Tidak ada keuntungan kalau dari bonus (juara) saja. Tapi, semua untuk branding kami," jelas Loudry Maspaitella, manajer BNI 46. "Aslinya tanpa ikut Proliga. Citra BNI sudah kuat di masyarakat. Namun, ada keterkaitan antara Proliga dan BNI. Saling membutuhkan," imbuh mantan pevoli nasional itu.

Proliga memang menjadi media promosi yang efisien bagi perusahaan. Seperti Jakarta Pertamina Energi yang disokong Pertamina. Setiap jeda pertandingan, iklannya diputar. "Ini efektif sekali untuk mengenalkan produk-produk perusahaan kami," ungkap Wakil Manajer Pertamina Energi Dedi Kurniawan.

Bahkan, penamaan tim pun tak terlepas dari ajang promosi. Setiap tim mengusung nama perusahaan dengan jelas. Misalnya, Jakarta PGN Popsivo Polwan, Sidoarjo Aneka Gas Industri, Jakarta Elektrik PLN, dan Palembang Bank SumselBabel. "Sejak Samator merger dengan Polri menjadi Bhayangkara Samator, secara tidak langsung menimbulkan minat masyarakat untuk menjadi polisi," terang Nanang Mashudi, manajer Samator.

source : jawapos.co.id

 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=