Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Manca Negara arrow Polandia Trauma Tim-Tim Asia
Skip to content

Login Form






Lost Password?

Visitors Counter Since 4 Feb 2012

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1227
mod_vvisit_counterYesterday1779
mod_vvisit_counterThis week15702
mod_vvisit_counterThis month54364
mod_vvisit_counterAll5651908

sloganvoli.jpg

Polandia Trauma Tim-Tim Asia PDF Print E-mail
Written by benny   
Sunday, 12 November 2006
Status boleh saja juara Eropa, tapi bagi Polandia, pengalaman di putaran pertama Kejuaraan Dunia Bola Voli di Jepang, 31 Oktober–16 November, sudah mengajarkan bahwa tim-tim Asia bagai mimpi buruk. Karena itu, mereka lebih optimistis menghadapi laga putaran kedua di Nagoya.

Di Tokyo, dari tiga tim Asia yang mereka hadapi, dua berakhir dengan kekalahan. Menantang tim ajaib Taiwan, mereka ditundukkan 1-3. Begitu juga saat menghadapi tuan rumah, tim besutan Ireneusz Klos ini juga hanya bisa merebut satu set. Kemenangan Polandia atas tim Asia diraih saat mengalahkan Korsel, itu pun lewat pertarungan lima set yang mendebarkan.

Mungkin karena itu Polandia sedikit optimistis menatap laga-laga di putaran kedua. “Itu harapan kami sepenuhnya. Kami yakin akan melakukan yang lebih baik di Nagoya karena tak satu pun lawan yang bakal dihadapi dari Asia,” ungkap Ireneusz. “Mungkin dari segi teknik kami masih kalah jauh dengan mereka,” tambahnya lagi.

Di putaran kedua yang mulai digelar Rabu (8/11), tiga dari empat lawan yang bakal dihadapi Joanna Mirek dkk. memang berasal dari Eropa, yakni Italia, Turki, serta Serbia-Montenegro. Satu lawan lagi adalah juara dunia tiga kali, Kuba.

“Ciri khas permainan tim Asia adalah mereka mempunyai pertahanan sangat bagus. Namun, untuk pertandingan di Nagoya, kami sudah memahami gaya permainan tim-tim Eropa, yang tidak memiliki pertahanan sebaik tim Asia. Karena itu, kami masih optimistis merebut satu tiket semifinal,” sebut Joanna. “Kami tahu benar bola voli Eropa. Karena itu, kami tak akan menyerah,” imbuh gadis pemilik postur 187 cm dengan nada yakin.

Bukan Keuntungan
Menurut Joanna, dia bahkan sudah memberi tahu rekan-rekan lain dari Eropa untuk tidak sekali-kali meremehkan tim-tim Asia. “Kebanyakan tim Eropa menganggap mereka punya kelebihan karena lebih jangkung. Padahal, tinggi saja belum tentu menguntungkan,” katanya lagi.

“Anda sudah lihat Taiwan. Mereka betul-betul di luar perkiraan. Tak satu pun tim Eropa mengenal mereka sebelumnya. Karena itu, kalau tim Eropa sekarang tidak memandang mereka secara serius, kejutan demi kejutan akan mereka ciptakan lagi,” kata skipper berusia 29 tahun ini.

Pendapat yang sama turut diutarakan Anna Podolec, pemain terjangkung di kubu Polandia. “Rata-rata pemain Asia tidak takut dengan lawan-lawan jangkung karena mereka sudah mempelajari bagaimana menghadapi pemain-pemain yang lebih tinggi,” kata pemain bertinggi-badan 193 cm ini.

“Mereka mengimbanginya dengan kemampuan mengatur irama permainan, ketepatan, serta pola serangan cepat yang membuat lawan kadang terkecoh,” tambahnya lagi.

Rata-rata tinggi pemain Taiwan memang “hanya” 174 cm, jauh lebih pendek dibanding rata-rata para pemain Polandia yang 184 cm. Bahkan pemain terjangkung di tim Taiwan, Lin Chun Yi (183 cm), juga masih kalah tinggi dengan rata-rata tim Polandia di atas.

Kita lihat saja bagaimana kiprah Polandia menentang tim-tim non-Asia di Nagoya.

source: Bolanews.com 

Last Updated ( Monday, 13 November 2006 )
 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=