Skip to content

martoloyo simbah

Narrow screen resolution Wide screen resolution Increase font size Decrease font size Default font size    Default color brown color green color red color blue color
You are here: Beranda arrow Berita arrow Manajemen Klub arrow Renungan Voli dari Negeri Tirai Bambu
Skip to content

Login Form






Lost Password?

Visitors Counter Since 4 Feb 2012

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday1870
mod_vvisit_counterYesterday2230
mod_vvisit_counterThis week9981
mod_vvisit_counterThis month18651
mod_vvisit_counterAll6381930

sloganvoli.jpg

Renungan Voli dari Negeri Tirai Bambu PDF Print E-mail
Written by marto   
Friday, 15 June 2007

Alkisah, adalah salah seorang kolumnis volimania dengan panggilan LAE KURDUD yang mengaku tidak bisa main voli, namun  beliau mengaku bisa mengunjungi berbagai team voli perguruan tinggi di Jawa dan sumatra dengan "skill volinya" yang nol tersebut. Beliau lebih sering bongkar pasang net voli pada masa mudanya dan pada masa tertentu menjadi organisator berbagai kegiatan mahasiswa termasuk sebagai ketua unit bola voli jaman baheula. Saat ini beliau berdinas di Beijing, dan disela kesibukannya  menyampaikan renungannya untuk kita semua. selamat menikmati

Berapa harga sebuah bola voli?
Bagi sebuah klub desa yang jalan mandiri tanpa sponsor satu bola voli baru terasa jauh dari jangkauan. Saya tidak tahu berapa nilai bola baru yang cukup layak pakai saat ini. Mungkin seratus, dua ratus, atau tiga ratus ribu rupiah? Pasti mengandung 'tus ribu', jumlah yang cukup membikin langkah tertahan bagi klub desa yang sederhana untuk membeli yang baru. Rasanya hampir tak mungkin

Sumber dana klub olahraga umumnya berasal dari jalur-jalur berikut:  kocek sendiri, donasi, sponsor, tiket pertandingan, bentuk-bentuk usaha lainnya.

Loyalitas, dedikasi, dan kebersamaan atau kekompakan anggota suatu klub biasanya akan terbentuk jika upaya membangun dijalankan secara bersama-sama, dari kecil dan dari hal yang kecil-kecil. Akumulasi hal-hal kecil yang dibina sejak kecil ini membentuk kebersamaan tim, membangun karakter klub, dan memproses chemistry (apa itu ya bahasa Indonesianya chemistry.. please help me with the appropriate Indonesian term) antar anggota yang membangkitkan aliran komunikasi yang cair namun penuh pengertian. Ini sangat penting untuk soliditas (apalagi itu soliditas... Wak Agen.. tolong kasi bahasa gindonesianya) .

Klub kecil di desa hampir bisa dipastikan belum punya sponsor. Mau jual tiket pertandingan, duh.. modal bikin pertandingan cukup besar, ga ada jaminan bakal untung. Mau bikin usaha sampingan untuk cari dana, wah... ini perlu kesamaan visi dan persepsi, dan itu tadi, butuh chemistry yang kuat supaya bisa menghasilkan. Kalau belum ada chemistry, alih alih mau untung, malah banyakan berantem dalam lingkungan sendiri, saling curiga, prasangka buruk, macam-macamlah. Mau ngambil dari kocek sendiri, duh... dapur sendiri aja ngebulnya ga janji. Mentok?
Ya mentok kalau berhenti berpikir. Dari sekian sumber dana di atas, tetap harus diambil salah satu pilihan, dengan pertimbangan yang paling mungkin dan memberi manfaat bagi kelanjutan klub. Pada saat masih belum punya apa-apa, pilihan terbaik dari semua alternatif rasanya adalah kocek sendiri.

Jangan mengeluh dulu.....
Selain uang, sumber daya yang dimiliki adalah visi dan waktu. Visi harus dibangun, supaya sesama anggota klub punya kesamaan tujuan. Dengan tujuan yang jelas, semangat terus menerus dipompa dengan mengingat walaupun tujuan masih jauh, bukan hal mustahil mencapainya. Harus bersahabat dengan waktu. Setiap yang sabar pasti akan mendapat giliran memetik hasil.

Sadar bahwa klub masih kecil, tidak perlu bermimpi dalam semalam menjadi klub besar kaya raya punya lapangan bagus licin, punya net kencang, punya bola bagus puluhan biji. Mimpi memiliki semua itu bukan hal buruk, cuma perlu "dibeli" dengan waktu. Tidak semalam, tidak seminggu, tidak sebulan.... setahun, dua tahun, atau lima tahun... mimpi itu bisa diwujudkan.

Kata orang tua kita, belajarlah ke negeri China. Visi seorang kaisar QinShiHuangdi yang menggagas tembok besar, dipelihara dalam waktu yang sangat panjang. Hasilnya, salah satu keajaiban dunia berupa tembok sepanjang ribuan kilometer membentang, yang dibangun selama dua ribu tahun, oleh berbagai dinasti yang silih berganti. Visi terjada, semangat tidak pernah kendur mencapai tujuan.

Ada lagi yang maish baru, dan masih sedang dibangun sejak lima belas tahun lalu. Ceritanya, setiap 10 tahun sekali, Sungai Yangtsekiang yang membentang selebar 2,5 km, menimbulkan bencana banjir yang kerap menelan ribuan korban manusia maupun harta benda yang tidak sedikit. Di suatu ruas sungai Yangtse, terdapat suatu area yang disebut tiga ngarai (three gorges), kondisi alamnya berat, gunung batu, jurang, tebing curam slih berganti. Melihat kondisi alam yang keras, kalau tidak bersahabat dengan waktu, orang akan mengatakan,
gimana yaaa caranya... dan berhenti usaha. Orang China tidak pernah takut terhadap waktu, berapa lama pun, mereka akan kerjakan, dan segera memulai. Lima belas tahun berlalu, saat ini Bendungan Tiga Ngarai telah selesai 80%, menghasilkan manfaat yang tinggi. Mencegah banjir sehingga mereduksi bencana, menghasilkan sistem pengairan pertanian, dan tenaga listrik 20 juta kilowatt dari 32 power generator yang masing-masing menghasilkan listrik 650 MW. Untuk itu, mereka memindahkan 3 juta penduduk sepanjang 600 km di sisi sungai, karena bantaran sungai sepanjang itu digunakan sebagai reservoir.
Mereka memulai, dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan kapan selesai... Kata produk olahraga Nike (duh.. terpaksa ikut iklanin merek orang lain).. Do it.

Sebuah klub bola voli desa yang sederhana, jika ingin punya bola, mulai lah menabung. Tidak perlu terlalu dikhawatirkan berapa lama baru bisa beli sebuah bola. Yang perlu dijadikan pikiran adalah bagaimana cara menabung yang tidak memberatkan anggota, namun sebaliknya, membangun loyalitas, dedikasi, dan kebersamaan. Cara paling sederhana adalah dengan iyuran, jumlah jangan terlalu dipaksakan. Seratus rupiah, lima ratus, atau seribu rupiah setiap kali main, ditabung dengan tujuan yang jelas dan tegas: untuk beli bola!!! Bersahabat dengan waktu... Tanpa terasa.... mungkin bahkan terkesan tiba-tiba rasanya..... klub sudah punya bola baru. Dan dalam proses menabung itu... semua orang terbangun rasa memiliki terhadap klub, ini membangun kekuatan dan kekompakan tim. Manfaat sampingnya, kekompakan tim ini menjadi modal bagi membangun prestasi, dan upaya-upaya lain untuk mencari sumber dana menjadi akan terbuka.
Tetap Semangat!!!

Kurdud.

Last Updated ( Friday, 15 June 2007 )
 
< Prev   Next >
Top .clearfix { display: inline-block;} !-- BEGIN: SPOTLIGHT -- 1); /*screen tool*/ ??php if ( mosCountModules( 'left' ) || ($subnav) ) { ? !-- BEGIN: LEFT SIDE --Contentja-cert src=