Porprov III Kaltim, Antara Gengsi dan Prestasi
Written by Esti Fauziah   
Saturday, 25 November 2006
PESTA olahraga terbesar di Kaltim, Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) III, dimulakan Sabtu (25/11) hari ini. Pembuktian seluruh daerah, dalam hal pembinaan atlet-atlet lokal mereka. Dalam kurun tiga tahun ke belakang, akan terlihat mulai 25 November sampai 2 Desember nanti, selama event ini berlangsung.

Porprov bisa jadi tolok ukur prestasi olahraga daerah, apakah tetap berkutat di empat besar (Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, dan Bontang) atau ada daerah lain yang mencuat prestasi atletnya. Lebih spesifik lagi, event ini juga bisa dijadikan gambaran kekuatan olahraga Benua Etam, menghadapi PON XVII 2008 mendatang.

Tapi, benarkah semua daerah sudah melakukan pembinaan atlet mereka dengan baik? Sekadar gambaran, sebelum Porprov berlangsung, cabang olahraga sepak bola yang pertama yang memunculkan polemik. Apalagi sumbernya, kalau tidak soal materi pemain yang tidak jelas. Ini baru permulaan dan yang ketahuan. Sementara di cabang olahraga lain, potensi untuk muncul masalah “tetap terbuka”, dengan fokus yang tak berbeda, soal keabsahan dan kemurnian atlet.

Berkaca dari sini, patut kita amati dengan saksama, kalau memang ternyata ada kota atau kabupaten yang tak siap dengan materi atlet yang ada. Sehingga secara instan, mengambil atlet dari daerah lain hanya untuk mengejar keping berharga, yakni medali emas. Kesempatan tiga tahun ke belakang, pasca-Porprov II yang dulu masih bernama Porda, pada 2002 silam di Balikpapan, tak dijadikan bahan evaluasi hasil pembinaan yang sudah dilakukan. Jalan pintas akhirnya dianggap pantas. Berdalih demi prestasi, ternyata sekadar menjaga gengsi.

Ya, ambisi menjadi yang terbaik membuat beberapa kota atau kabupaten akhirnya melupakan tujuan awal. Keinginan menjadikan Porprov sebagai ajang pencarian potensi dan bakat atlet terpendam dari seluruh cabang olahraga menuju PON 2008, terabaikan. Yang ada hanya memikirkan bagaimana caranya agar daerah bisa juara, meraih medali emas. Dan itu dianggap bisa dicapai dengan menampung atlet luar sebanyak-banyaknya. Menyedihkan memang.

Persoalan mendatangkan atlet provinsi lain ke Kaltim untuk membela daerah tertentu, sepertinya jadi “kebiasaan” yang akhirnya akan terus dilakukan, selama masih punya uang. Ketidakpercayaan kepada atlet daerah sendiri, menyebabkan peluang mereka yang sebenarnya memendam potensi besar untuk mengangkat nama daerahnya untuk pekerjaan, meraup rupiah demi keluarga atau sanak saudara, tak bisa terwujudkan. Tak bisa disangkal memang, ada atlet lokal yang hanya jadi penonton, karena tempatnya diisi orang dari luar.

Untuk bersaing mendapatkan posisi sebagai atlet utama, ternyata tidak sekadar kalah karena prestasi, tapi kekuatan uang yang dimiliki kota atau kabupaten setempat untuk membeli atlet luar, yang dianggap lebih mampu dan berpeluang besar mendapatkan medali emas. Atlet luar, berani taruhan, mereka datang hanya mengejar rupiah yang sudah dijanjikan, kalau bisa meraih medali emas. Setelah itu? Pulang ke daerah mereka dan baru kembali saat PON 2008 berlangsung, dengan mengusung provinsi lain, yang pasti itu bukan Kaltim.

Akan positif kehadiran atlet luar kalau mereka datang untuk menciptakan iklim persaingan dengan atlet daerah, demi majunya prestasi. Tapi hanya sebatas itulah nilai positifnya. Karena sesudahnya, tak ada lagi. Easy come, easy go.

Sudah saatnya memang bagi kita semua untuk berkaca, belajar dari pengalaman. Sudahkah memaksimalkan kekuatan yang ada? Haruskah mengejar gengsi, prestise daerah, tapi mengabaikan prestasi, yang pada akhirnya berujung rasa sakit hati? Empat tahun sekali pelaksanaan Porprov, tak salah kalau kita semua memberikan kesempatan kepada atlet sendiri untuk mengukur kemampuan yang sudah mereka tempa, membagi rezeki untuk keluarga mereka. Bukan malah membuka peluang kepada orang luar untuk mengambilnya, demi kepentingan sesaat. (***)

Sumber : Kaltim Post, Sabtu, 25 Nopember 2006
Last Updated ( Friday, 01 December 2006 )