Ketika Mantan Tim Putra Petrokimia Gresik Bercerita
Written by benny   
Thursday, 08 January 2015

Pandai Pancing Emosi Lawan, Tularkan Ilmu ke Junior Putri

Nama klub voli putra Petrokimia Gresik dahulu, pada 1980-1990-an, sangat disegani. Boleh dibilang para pemain Petrokimia juga menjadi tulang punggung tim voli Jatim maupun nasional. Para eks pemain tim tersebut berusaha membangkitkan kejayaan mereka melalui anak asuhnya.

Mantan Petrokimia Putra

Ardi Priyatno Utomo, Gresik

---

BERBICARA soal voli di Jatim tidak akan bisa terlepas dari Petrokimia Gresik. Kiprah klub voli itu sekarang, terutama untuk tim putri, cukup membuat angkat topi para penggemar voli.

Kiprah mereka dalam Livoli maupun Proliga patut diperhitungkan. Apalagi, mereka juga melahirkan beberapa nama pemain yang kerap menjadi penggawa timnas voli Indonesia. Misalnya, Lailatul Aisyah, Novia Andriyanti, dan Maya Kurnia Indri.

Namun, mereka yang benar-benar maniak olahraga yang dipopulerkan William Morgan pada 1895 itu pasti masih ingat bahwa jauh sebelum Indonesia familier dengan tim putri, Petro pernah membentuk sebuah tim putra pada akhir dekade 1970-an.

"Saat itu awal pembentukannya ya sebatas ajang bersenang-senang antarpegawai," tutur Gatot Santoso, mantan pemain Petrokimia, ketika ditemui di GOR Tri Dharma selepas latihan kemarin (7/1).

Gatot yang masuk sebagai pemain pada 1982 menceritakan, saat dirinya bergabung, Petro sudah mempunyai keinginan menjadi klub prestasi. "Kami mulai mengikuti beberapa kejuaraan. Namun, masih terseok-seok," tutur pria yang saat aktif bermain sebagai tosser (pengumpan) itu.

Terseok-seoknya tim putra saat itu disebabkan mereka masih tergolong newbie dalam kompetisi seperti Livokarya. "Banyak orang masih memandang tim ini dengan sebelah mata," kisahnya.

Namun, perlahan-lahan Petro menjelma sebagai tim yang paling diperhitungkan. Bahkan, mereka mempunyai legenda sendiri, yakni Loudryans Arian Maspaitella yang lebih dikenal dengan nama Loudry Maspaitella.

Selain itu, mereka dilatih oleh sang legenda yang pernah menjadi bagian dari tim Indonesia saat pesta olahraga Ganefo pada 1962 di Jakarta Leo Maspaitella. Leo adalah ayahanda Loudry dan Henny Maspaitella, mantan ratu atletik Indonesia.

Namun, titik balik paling mencolok yang menjadi momentum gemilangnya Petro sekaligus masa yang paling dikenang Gatot adalah partai final melawan tim DLLAJ dalam turnamen Wali Kota Malang Cup pada 1987.

"Waktu itu kami kalah. Namun, seperti takdir, kami bertemu kembali di BTPN Cup Jakarta beberapa bulan sesudahnya," tutur pria 52 tahun itu.

Saat itu ada pengalaman lucu. Yakni, Gatot berhasil memancing emosi lawan sehingga permainan DLLAJ kacau. Akhirnya, Petro berhasil menundukkan tim DLLAJ.

Berkat kemenangan itu, keran gelar Petro seakan mengalir kencang. Dengan dimotori Loudry, Sudarto, dan Syaiful Bahri, tim Petro berhasil meraih titel Livokarya enam kali beruntun.

Dalam turnamen Arafura Cup di Australia yang diikuti klub-klub se-Asia tersebut, mereka berhasil menjadi juara. "Itu merupakan prestasi kami yang paling puncak, menurut saya," paparnya.

Tidak selamanya mereka merasakan manisnya kehidupan. Shobirin mengatakan bahwa timnya pernah berada dalam satu fase tersulit. Itu terjadi ketika mereka mengikuti suatu kejuaraan pada 1984.

"Kami kalah menyakitkan dengan skor tipis 2-3 melawan Bank DKI," tuturnya. Yang membuat lebih sakit, saat itu mereka baru saja mendapat sepatu baru dengan harga yang lumayan mahal.

Setelah menikmati berbagai gelar hingga 1995, secara mengejutkan tim putra bubar pada 1996. Tetapi, mereka tetap menularkan kejayaannya kepada anak asuhnya.

source : jawapos.com

Last Updated ( Thursday, 08 January 2015 )