Setelah Gresik Petrokimia Menjadi Klub Voli Profesional Murni
Written by marto   
Saturday, 05 November 2016

Karena Pemain Akademi Tak Penuhi Selera Pelatih

Pro-kontra menyertai keputusan klub voli Gresik Petrokimia untuk menghapus program pembinaan pemain usia dini. Klub itu memutuskan menjadi klub voli profesional murni. Kemajuan atau kemunduran?

TIDAK ada keriuhan anak-anak ketika Jawa Pos mengunjungi GOR Tri Dharma Petrokimia Gresik Selasa sore (1/11). Padahal, biasanya setiap pukul 15.00-17.30, GOR itu ramai dengan para pemain voli belia yang menjalani sesi latihan sore. Sebab, sejak September lalu, Petrokimia tidak lagi menjalankan pembinaan pada usia dini.

Kini penghuni peringkat ketiga pada Final Four Proliga 2016 tersebut mengubah mindset untuk merekrut dan memoles pemain-pemain yang kemampuannya setengah matang. Kabid Teknik Petrokimia Gatot Santoso menjelaskan, keputusan itu tidak lahir secara terburu-buru. Dari hasil rapat direksi maupun manajemen Persatuan Bola Voli (PBV) Petrokimia, ada beberapa poin yang menjadi argumentasi utama untuk tidak lagi melakukan pembinaan.

Yang paling utama, keberadaan akademi itu sudah tidak memberikan dampak berupa output pemain bagi tim senior. Setelah era Lailatul Aisyah (open spike) dan Claudia Yolanda (tosser), pemain terakhir yang dianggap bisa menembus skuad, antara lain, Dinda Surya Anggraeni (tosser) dan Asrita Irma Pitaloka (quicker).

Namun, dua nama itu tidak menjadi pilihan utama pelatih saat ini, Li Huanning. Pelatih asal Tiongkok tersebut lebih memprioritaskan untuk merekrut pemain seperti kapten tim junior Jawa Barat Wintang Dyah Kumala Sakti maupun Rani Setiawati.

Malahan, dalam dua tahun belakangan, klub yang identik dengan kostum hijau tersebut condong menjadi tim profesional. Indikasinya terlihat saat mereka mendatangkan Vika Kinani (all-round) dan Afifah (open spike).

Dalam pandangan Gatot, pemain-pemain binaan saat ini harus diakui memiliki fisik yang tidak sesuai dengan kebutuhan pelatih. Yang paling kentara adalah tinggi badan.

Pria yang juga menjadi asisten manajer tim Livoli itu melanjutkan, anak-anak yang berasal dari akademi sering tidak memiliki keinginan untuk menjadi pemain voli. Hal tersebut sangat menyulitkan tim pelatih untuk melakukan regenerasi. ''Itulah yang membuat manajemen mengambil langkah tersebut,'' terangnya.

Keputusan itu pun menuai reaksi dari banyak pihak. Lailatul menyayangkan hal tersebut. Namun, sama dengan Gatot, dia yakin direksi dan manajemen pasti telah mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. (apu/c5/tom)

SUMBER : jawapos.com 
 

Last Updated ( Friday, 04 November 2016 )