Masyhudi, si Kutu Loncat Pencetak Tim Juara Bola Voli
Written by marto   
Thursday, 16 June 2011

Bergaya Galak Agar Pemain Berkarakter 

Jawapos, 15 juni 2011, Sejumlah klub bola voli di tanah air merasakan tangan dingin Masyhudi. Dia mempersembahkan beberapa gelar di kompetisi junior, senior, dan klub. Apa resep pelatih asal Sidoarjo tersebut?

CIRI khas Masyhudi ketika melatih para pemain adalah gayanya yang meledak-ledak. Kerasnya tempaan itu membuat pemain grogi. Banyak pemain yang dihukum penambahan latihan dasar dan fisik karena dianggap masih kurang.
Pelatih berusia 50 tahun itu memang terkenal galak dan keras dalam mendidik anak buahnya. Tidak heran jika anak asuhnya di klub voli AAL Bumimoro, Surabaya, memanggil dia si Macan. Toh, Udik –sapaan Masyhudi– tidak ambil pusing. Sebab, dia punya prinsip, melatih adalah bakti dan kemenangan adalah konsekuensi.
’’Saya memang keras di lapangan. Saya ingin anak-anak punya mental, fisik, dan teknik yang mumpuni. Artinya, tiap individu di tim harus berkarakter,’’ kata bapak tiga anak tersebut.
Jika ada yang bilang bahwa tim juara lahir tanpa ditempa latihan keras, Udik tidak percaya. Bukti terakhirnya adalah tim putri Surabaya Bank Jatim yang menjadi kampiun di Livoli 2010 serta tim putra Palembang Bank Sumsel yang menjadi jawara Proliga 2011.
Karir Udik dalam memoles tim berlangsung sekitar dua dekade. Suami Roeminarti itu menapaki dunia kepelatihan sejak 1988 bersama klub yang membesarkan dirinya, Sawunggaling Para Pratama (Sparta) Sidoarjo. Empat tahun kemudian, dia dipercaya menangani tim junior Jatim.
Udik meraih hasil positif. Tim besutannya tersebut menjadi juara pada kejuaraan nasional junior. ’’Saya menangis gembira. Itu salah satu momen yang tidak terlupakan bagi saya,’’ ungkapnya. Berkat prestasi tersebut, Udik dipercaya menangani timnas junior pada dua kejuaraan level internasional di tingkat Asia Tenggara dan Asia.
Sepulang dari kejuaraan voli junior se-Asia di Teheran, Iran, dia di banjiri tawaran melatih. Udik menangani berbagai tim voli. Yakni, AAL Bumimoro, PDAM Wiyung, Samator Surabaya, Indomaret Sidoarjo, tim putra PON Jatim, tim putra dan putri PON Papua, Jakarta Sananta, Surabaya Bank Jatim, serta Palembang Bank Sumsel Babel.
Dengan sederet nama klub maupun daerah yang dibesutnya itu, banyak kalangan voli menilai bahwa Udik bukan sosok pelatih yang loyal. Menurut Udik, sebenar nya, banyak pelatih yang juga ber pindah tim hampir setiap tahun. Namun, dia telanjur menyandang status pelatih ’’kutu loncat’’.
’’Saya anggap enteng saja persepsi orang. Malah, cemoohan itu saya ja dikan cambuk. Toh, lebih baik sa ya menjawab komentar miring dengan prestasi di lapangan. Kalau hasilnya bagus, saya sendiri yang puas, bukan orang lain,’’ papar pelatih kelahiran Semarang tersebut. Lantas, apa yang dicari Udik sehingga gemar berpindah klub? Penggemar Chinese food itu ingin tantangan.
Dengan tantangan baru setiap berganti klub, dia merasa bahwa hidupnya lebih berwarna. Ada kepuasan tersendiri ketika dia bisa menjadikan sebuah tim sebagai juara. ’’Mungkin, ada yang bilang bahwa Udik senang pindah klub karena uang. Itu salah total. Untuk saya, uang adalah nomor lima. Yang penting adalah kepuasan dalam melatih tim,’’ terangnya.
Di antara beberapa klub yang dia tangani, Surabaya Samator adalah yang paling membekas. ’’Hampir sepuluh tahun saya bersama Samator. Saya menjadikan Samator disegani dan diperhitungkan se-Indonesia,’’ ujarnya.
’’Semua berakhir dengan pemecatan karena saya dianggap tidak punya konsep serta kemampuan me latih. Saya legawa. Itu saya anggap sebagai dinamika dan konsekuensi melatih,’’
papar Udik. (diar candra/c12/aww)

Last Updated ( Thursday, 16 June 2011 )