Masyhudi : Menangis adalah Karunia
Written by marto   
Thursday, 16 June 2011

Video Tangisan Masyhudi  menjadi Best Scen  Proliga 2002

Jawapos, 15 juni 2011, TIAP individu memiliki cara sendiri dalam meluapkan emosi kegembiraan ataupun kekalahan. Ada yang tetap kalem, berteriak, mengepalkan tangan ke atas, dan melompat-lompat. Bahkan, ada yang menangis.

Masyhudi termasuk orang yang ekspresif soal melampiaskan kalah-menang di lapangan. ’’Saya hampir selalu menangis setiap selesai bertanding. Baik kalah maupun menang,” kata Udik – sapaan Masyhudi. Bagi dia, menangis justru karunia dan kenikmatan dari Tuhan. Malah, kalau tak menangis, bapak tiga anak itu merasa belum plong.

Nah, soal kebiasaannya menangis di arena pertandingan, Udik punya kenangan tersendiri. Pada 2002, ketika masih menangani Samator Surabaya, pelatih 50 tahun itu berhasil mengantar Hadi Ismanto dkk ke final Proliga. Sayang, di partai puncak yang digeber di Senayan, Samator kalah 2-3 oleh Perhutani Bandung.

’’Kekalahan tersebut begitu menyesakkan. Kami kalah karena faktor nonteknis. Karena merasa kalah dengan cara tak adil, saya menangis sejadi-jadinya di pojok lapangan. Rupanya, kejadian itu terekam oleh kamera. Ketika ada penayangan flash back soal Proliga 2002, adegan menangis saya dijadikan pembuka,” tutur Udik.

Rupanya, video flash back Proliga 2002 tersebut dibawa oleh Rita Subowo (ketua PBVSI kala itu, Red) ke FIVB (Federasi Bola Voli Internasional) sebagai bahan presentasi. Maklum Proliga 2002 adalah kejuaraan voli profesional pertama di Indonesia. PBVSI selaku penyelenggara ingin memamerkan keberhasilan kejuaraan itu.

’’Bahkan, Bu Rita (Rita Subowo, red.) menyebut tangisan saya adalah best scene dalam video perjalanan Proliga 2002 tersebut. Di presentasinya ke FIVB Bu Rita menyebut ke juaraan voli tanah air ini bisa menyajikan drama yang cukup kuat. Contohnya, tangisan saya itu,” ujar suami Roesminarti tersebut.

Di sisi lain, Udik tak ambil pusing jika ada yang menyebutnya pelatih cengeng lantaran sering menangis. ’’Yang jelas, tangisan saya ini berasal dari hati nurani. Bukan dibuat-buat,” ucap pelatih kelahiran Semarang tersebut. Sebenarnya, Udik lebih senang berkecimpung di kancah junior. Itu tidak lepas dari besarnya tanggung jawab dalam membentuk fundamental voli pemain. Jika di tataran dasar saja salah, pemain bisa kagok saat meloncat ke level yang lebih tinggi.

’’Di tim junior, pelatih harus bisa memasukkan roh sebagai pelatih. Pembangunan mental ’jangan cengeng’ dan ’harus bangkit’ menjadi menu utama di junior, selain teknik dan fisik,’’ kata Udik.

Karena itu, putra (almarhum) Mahbub dan (almarhumah) Aisyah tersebut sangat senang melatih junior di Sparta. Dia menyebut mantan pelatih DLLAJ Bandung (almarhum) Iwan Budiono sebagai inspirasinya. (dra/c8/aww)

Last Updated ( Thursday, 16 June 2011 )