Sujudnya Bagus : Kepasrahan Pada Yang Maha Kuasa
Written by Esti Fauziah   
Friday, 18 November 2011

Tangis haru sang tosser Bagus Wahyu Ardyanto  tak terbendung usai tim bola voli indoor putra Indonesia memastikan langkah ke final SEA Games XXVI/2011. Kepastian tersebut didapat setelah tim bola voli putra sukses mengkandaskan perlawanan Vietnam 3-1 (25-18, 25-21, 23-25, 25-17) di babak penyisihan di Palembang Sport and Convention Centre, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (17/11).

Foto : Esti Fauziah

Ekspresi usai pertandingan tersebut tak mengherankan jika ditilik dari atmosfer selama Sea Games yang tekanannya cukup berat. Target emas yang dibebankan kepada tim bola voli putra, membuat beban para punggawa timnas ini bertambah.

“Baru di Sea Games ini saya dipercaya menjadi starter. Beban yang kami rasakan di Sea Games berbeda bila dibandingkan dengan kejuaraan lain”, ujar Bagus. Pada Sea Games dua tahun lalu di Laos, tosser utama Indonesia adalah Didi Irwadi. Didi sempat mengikuti seleksi, namun namanya tercoret dari daftar pemain. Saat ini tosser tim bola voli Indonesia adalah Bagus Wahyu serta Adi Sucipto dari klub Indomaret.

Tak jarang pula, terlihat kamera televisi menangkap Bagus yang bersujud atau memanjatkan do’a cukup lama bila memasuki lapangan. Mengenai kebiasaannya itu, Bagus mengungkapkan bahwa itu adalah wujud kepasrahannya pada Tuhan YME.

 “Saya pasrah, apapun hasilnya. Saya hanya berdo’a agar diberikan hasil yang terbaik untuk tim, serta agar kami diberi kekuatan untuk mempersembahkan hasil maksimal”, kata pemuda yang kini masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Yos Sudarso ini. 

Tosser asal Surabaya Samator ini sepanjang pertandingan juga terlihat ekspresif, terutama usai tim Indonesia mencetak poin. Tak jarang, Bagus melakukan selebrasi lari memutari lapangan, serta bergaya seolah membidik pemain yang baru saja menyelesaikan umpan-umpan yang dia berikan dengan sempurna.“Saya lakukan itu supaya teman-teman yang lain juga ikut semangat”, tutur pemuda asal Palur Solo tersebut.

“Pada dasarnya saya memang tidak bisa diam kalau di lapangan, teriak-teriak untuk memompa semangat kawan-kawan”, lanjut Bagus.

 “Untungnya kami bertanding di hadapan pendukung sendiri. Dukungan penonton juga memacu adrenalin kami untuk tampil maksimal”, urai Bagus mengakhiri wawancara. (ef)

Last Updated ( Friday, 18 November 2011 )